The Metropolitan Syndrom™

January 5th, 2008 by lvtfy

# Listening to :
Padi – Aku Bisa Menjadi Kekasih
# Currrent Location
: Parijs van Java
# Mood : Chill 

Setelah
wabah “The Metropolitan Syndrom™” dengan
ganas menyerang The Siluman Babi v1.0
Jakarta Version™
, wabah tersebut akhirnya menyerang kota Solo pasca banjir
dan merebaknya Friendster beberapa
waktu kemarin. Sebuah kota yang pada awalnya tenang, damai, tenteram, akhirnya
tidak bisa menahan amukan wabah tersebut. Salah satu korban yang mengaku
bernama Ade Shintaro yang juga adalah seorang eksekutif papan atas kantor
berita Suara Merdeka Solo mengungkapkan setidaknya ada beberapa gejala yang dia
rasakan sebagai penderita The
Metropolitan Syndrom™
yaitu :

  1. Menjadi lebih melankolis dari biasanya, rumput akan dilihat sebagai bunga, batang kayu akan dilihat sebagai coklat, dan motor Supra akan dilihat sebagai sebuah kereta kuda
    yang dijalankan oleh 8 ekor kuda putih Australia setinggi dua meter, dikemudikan oleh seorang kurcaci yang ramah, dan didampingi oleh seorang putri raja berpakaian seperti Putri Arwen dalam Trilogi Lord of The Ring. Kasihan sekali engkau nak, kalau  harus berfantasi seperti ini, Sang Raja Fantasi™ pun belum tentu  bisa berfantasi seperti ini ha ha ha
  2. Fantasi menikah mendominasi 80 persen dari otaknya yang berpotensi mengakibatkan disorientasi seksual yang berakibat menjadi   possesive, extibitionist, sadomasokist, dan penyimpangan-penyimpangan yang lain
  3. Terjadinya pergeseran selera dari yang awalnya sangat senang membaca majalah Concept, Snap menjadi senang membaca novel Kutemukan Engkau dalam Setiap Masalahku, Ketika Engkau Beranak dalam Kubur  ( eh ngga ding)
  4. Menjadi sensitif dengan HP, ada anggaran khusus untuk membeli pulsa dan membeli kartu perdana agar menelpon menjadi lebih murah, kalau terpaksa telpon kantor pun akan digunakan

Beberapa
saksi mengungkapkan pada awalnya wabah tersebut muncul di sebuah kawasan
perkantoran di daerah TB Simatupang Jakarta. Diperkirakan wabah tersebut
berkembang seiring dengan semakin bertambahnya populasi babi di Ibukota,
sehingga para leluhur babih sebelumnya-yang salah satu diantaranya adalah The Siluman Babi v1.0 Jakarta Version, berusaha
melakukan evolusi dan mutasi genetika yang mengakibatkan virus The Metropolitan Syndrom™ mampu menyebar
cukup lewat email, friendster, HP. Diperkirakan hal ini dilakukan karena para
leluhur babi tersebut ingin melakukan diferensiasi dengan ras penerusnya. Salah
satu hasil diferensiasi tersebut adalah semakin mudahnya wabah tersebut meluas
karena semakin banyak medianya dan sampai berita ini disiarkan wabah tersebut sudah
menjangkiti wilayah Solo dan sekitarnya. 

Ketika
dikonfirmasikan langsung kepada The
Siluman Babi v1.0 Jakarta Version™
dari markasnya di sebuah kantor di
daerah TB Simatupang, beliau
mengungkapkan bahwa hal ini dia lakukan karena permasalahan ibukota yang
semakin kompleks. Kemacetan dimana-mana, banjir, udara kotor, iklim kerja yang
berat, dan fakta-fakta tentang ibukota yang sudah biasa diungkapkan di berita.
Menurut dia The Metropolitan Syndrom™ pada
dasarnya adalah solusi permasalahan warga kota-kota besar di Indonesia. Menjadikan
orang lebih teratur dalam menjalani hidup, selalu berpikir kedepan, tidak
menjalani waktu dengan hal yang sia-sia, tidak gampang membelanjakan uang untuk
hal yang tidak mendukung masa depannya(salah satunya adalah belanja jeans,
padahal jeans adalah celana kesukaan The
Siluman Babi v1.0 Jakarta Version™
). Dia berharap masyarakat mau menerima kehadiran
wabah tersebut dengan hati yang lapang dan kepala yang terbuka. Berikut ini
beberapa tips dari saya untuk menghindari wabah tersebut :

  1. Jauhi film dan lagu melankolis mellow seperti Merah itu Darah, Berbagi Lemari, Ada Apa Dengan Cina, Hajatan Cinta(The Rok), Mandra and the Backpack dsb
  2. Kurangi membaca novel-novel mendayu-dayu seperti Kutemukan Engkau dalam Setiap Masalahku, Ayat- Ayat Primbon, dsb
  3. Kurangi asupan MSG dan bahan dan makanan siap saji, karena dari survey terlihat The Metropolitan Syndrom™ menjangkiti orang-orang yang bekerja
         sampai malam hari (terutama pekerjaan wartawan iklan dan monitoring
         jaringan Backbone Internet dan Trunk). Karena bekerja malam hari, mereka
         tidak bisa menemukan warung makan yang bisa menyediakan menu-menu sehat, sehingga alternatif terakhir adalah memilih 14045, Indomie Rebus, atau Angkringan yang mengandung banyak MSG dan bahan pengawet
  4. Hindari iklim kerja yang keras karena kondisi fisik anda yang lemah akan memudahkan virus ini berkembang biak. Hati-hati ketika kita pulang dari kerja dalam kondisi capek kemudian kita
    berpikir, “Seandainya ada yang masakin, seandainya ada yang menyambut, seandainya ada yang mijitin” karena itu adalah masa inkubasi virus untuk berkembang biak
  5. Hindari polusi udara dan ruangan ber
    AC semaksimal mungkin, semakin meningkatnya kadar CO2 dalam otak anda
    semakin cepat wabah ini menjangkiti anda
  6. Perbanyaklah minum kopi, karena kopi dapat membuat kita semakin rileks dan dapat semakin merasakan makna hidup
    yang tidak hanya sekedar berfantasi saja
  7. Kurangi penggunaaan Friendster, Facebook, Multiply dsb,
    karena rata-rata penderita menggunakan fasilitas comment atau testimonials
         untuk menyebarkan virus. Hal ini terlihat rata-rata penderita memiliki comment atau testimonials yang sangat banyak
  8. Tetap berdoa kepada Tuhan agar hidup
         kita tetap di jalan Nya
     

    Untuk informasi lebih lanjut
tentang wabah ini silakan hubungi The
Siluman Babi v1.0 Jakarta Version™
dengan nomer HP : XX122248893 dan untuk
pencegahan silakan langsung hubungi saya saja.

New Year, New Hope, More Responsibility

January 3rd, 2008 by lvtfy

# Listening : Padi
– Menanti Sebuah Jawaban
# Current Location
: Old town, Parijs van Java
# Mood : Anxious

Waktu
adalah sebuah ciptaan Tuhan yang maha dahsyat. Suatu sistem yang berdimensi
dengan ruang yang menciptakan suatu kondisi yang selalu unik dan tidak pernah
berulang persis. Tidak pernah terjadi suatu kejadian yang sama yang terjadi
dalam satu dimensi waktu dan ruang. Artinya tidak pernah ada kejadian yang
mempunyai waktu dan lokasi yang sama, salah satunya pasti berbeda. Disisi lain
waktu adalah sebuah ciptaan mahadahsyat yang sampai sekarang belum penah ada
manusiapun yang mampu untuk mengotak-atiknya. Mengotak atik dalam arti
memajukan atau memundurkan, melakukan perjalanan pada dimensi waktu ke depan atau
kebelakang. Yang ada kita harus selalu tunduk dan mengikutinya. Waktu adalah
sebuah supra sistem, yang hanya tunduk pada penciptanya. Waktu memang akan dan
selalu angkuh, dia tidak akan penah menunggu, dia hanya menawarkan opsi ikuti
aku, atau engkau akan tergilas olehku karena aku tidak bersedia menunggumu.

     Tahun
baru bisa berarti empat hal, pertama bernostalgia dengan apa yang terjadi
dengan satu tahun kebelakang, kedua melupakan semua yang terjadi satu tahun
kebelakang dan merencanakan satu tahun kedepan, ketiga berintrospeksi terhadap
apa yang terjadi setahun ke belakang sebagai sebuah feed back untuk
merencanakan satu tahun ke depan, dan terakhir adalah PESTA seolah tidak pernah
terjadi sesuatu apapun selama satu tahun ke belakang dan tidak pernah ada lagi
hari esok

    Oleh
karena itu bagi saya momen tahun baru tidak lebih hanyalah sebuah titik kritis
atau critical section dimana kita
diingatkan untuk selalu berintrospeksi dan memperbaiki diri. Pada kondisi ideal
seharusnya kita berinterospeksi setiap hari, namun itulah sifat alami manusia,
dia butuh titik-titik ekstrim untuk diingatkan, dia butuh titik ekstrim untuk
berubah, sebagaimana dia butuh sakit agar dia bisa bersyukur akan nikmat sehat,
atau sebagaimana dia butuh miskin agar dia tidak sombong ketika dia kaya raya. Oleh
karena itu semua kembali kepada kita untuk memilih, karena hidup ini adalah
pilihan, dan ketika anda tidak memilih itu juga adalah pilihan. Namun satu hal
yang pasti adalah ada hidup setelah mati, yagn ditentukan oleh seajauh mana
kita mempunyai eksistensi di dunia ini terhadap Tuhan, alam, dan orang-orang di
sekitar kita. Selamat Tahun Baru 2008…

Satanic Finance (True Conspiracies)

December 23rd, 2007 by lvtfy

       Beberapa hari
kemarin saya
mengikuti sebuah perbincangan seru di STV Bandung. Tidak biasanya sebuah acara
televisi menyajikan sebuah harapan bagi saya terhadap perubahan Indonesia,
sebagai sebuah catatan saya udah muak mendengarkan perbicangan normatif para
polikus, atau berita-ebrita menyedihkan tentang Indonesia (mending nonton
sinetron aja he he he). Permasalahan yang dibahas dalam diskusi tersebut adalah
tentang sistem moneter global yang terbukti gagal untuk membangun ekonomi dunia
dan kenapa kita harus kembali pada sistem koin emas atau perak. Sistem ekonomi
global yang menganut paham keynesian telah terbukti semakin membuat orang kaya
semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Dalam diskusi tersebut hadir tiga
tokoh pengusung sistem moneter nasional alternatif yaitu kembali menggunakan
emas sebagai pengganti fungsi uang kertas sekarang (fiat money).

     Salah satu pembicara (Ahmad Riawan
Amin – Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia) mengungkapkan ada 3 pilar setan
(The Three Pilars of Evil) yang saat ini menjadi sumber malapetaka perekonomian
Indonesia yang tentu saja merupakan subset dari sistem moneter global. Pilar
setan pertama adalah uang kertas(fiat
money)
. Sebelum mengenal uang kertas manusia terlebih dahulu mengenal
barter untuk memenuhi kebutuhannya. Ikan ditukar padi, kerbau ditukar sapi,
garam ditukar rotan, dsb. Setelah itu manusia mengenal logam mulia sebagai alat
transaksi, logam mulai dalam hal ini adalah emas dan perak. Pada masa Rasulullah,
emas dan perak yang digunakan untuk melakukan transaksi. Emas dalam bentuk
dinar, dan perak dalam bentuk dirham, dengan rasio 3 dinar sama dengan 7 perak.
Sebenarnya Rasulullah bukan orang pertama yang menggunakan dinar atau dirham.
Mata uang dinar sebenarnya adalah mata uang Byzantium atau Romawi, sedangkan
mata uang dirham adalah mata uang Persia. Hal ini membuktikan bahwa anggapan
yang menyebutkan dinar dan dirham adalah berasal dari Islam adalah salah.
Keduanya bukan dari Islam. Hal ini membuktikan bahwa Islam bukan sebuah agama
yang mengagungkan simbolitas, namun Islam melihat substansi yang sangat luar
biasa yang bisa mendatangkan keadilan dari suatu sistem meskipun sistem
tersebut bukan dari Islam.

Setelah
era penggunaan emas dan perak dikenalkanlah sistem uang kertas. Pada awalnya
ide penggunaan uang kertas sangat menarik. Di dalam buku Satanic Finance dijelaskan dengan detail bagaimana proses
perpindahan uang emas menjadi uang kertas (fiat
money)
dengan sebuah cerita Sukus dan Tukus. Uang kertas diharapkan
mempermudah proses transaksi karena dengan uang emas atau perak proses
mobilisasi uang sangatlah ribet. Oleh karena itu koin emas dan perak
didepositkan dan diganti dengan uang kertas. Nilai uang kertas sama dengan
nilai emas. Sampai pada saat ini tidak terjadi masalah, karena uang yang
beredar masih sama dengan nilai koin emas yang disimpan di bank. Disisi lain
masyarakat yang menginginkan uang kertasnya ditukar dengan koin emas masih bisa
ditukarkan di bank. Karena banyaknya jumlah uang yang beredar sama dengan nilai
koin emas yang ada di bank, bank tidak pernah mengalami masalah dalam proses
penukaran uang kertas dengan koin emas. Setelah manusia terbiasa menggunakan
uang kertas(yang secara nilai harfiahnya hanya bernilai sebagai kertas biasa
saja) penggunaan koin emas semakin jarang. Masyarakat yang menukarkan uang
kertas mereka dengan koin emas semkain sedikit dan pada akhirnya hanya mencapai
nilai 10 persen dari total koin emas yang ada di bank. Nah permasalahan
kemudian baru muncul ketika bank mencetak uang lagi, dengan asumsi bank hanya
perlu mencadangkan koin emas senilai 10 persen dari total nilai uang yang
beredar di masyarakat sebagai jaga-jaga kalau masyarakat ada yang menukarkan
uang dengan koin emasnua. 10 persen itulah yang kemudian disebut sebagai fractional reserve yang disebut dalam
buku tersebut sebagai pilar setan kedua. Jumlah uang yang bisa dihasilkan oleh
bank bisa senilai sembilan kali lipat dari total uang yang sebenarnya beredar
di masyarakat karena di back up oleh koin emas atau perak, karena bank hanya
perlu menadangkan 10 persebnnya saja. Uang-uang tersebut diedarkan di oleh bank
dalam bentuk pinjaman yang tentu saja pinjaman dengan bunga. Bunga atau interest itulah yang nantinya akan menjadi
pilar setan ketiga. Pada awalnya sangat aneh orang meminjam uang kemudian
mendapat charge dalam bentuk bunga.
Namun karena semakin biasanya manusia dengan bunga dan menganggap bahwa bunga
adalah sesuatu yang wajar maka manusia menganggap bunga adalah sesuatu hal yang
biasa. Dari bunga itulah bisa dikatakan bank kembali menciptakan uang yang
beredar di masyrakat. Jumlah uang riil yang beredar di masyarakat sekarang semakin
jauh lebih sedikit daripada jumlah uang yang tersimpan dalam bentuk pembukuan-pembukuan
di bank padahal jumlah uang riil yang beredar itu sendiri jauh lebih besar dari
koin emas yang beredar. Karena banyaknya uang yang beredar di masyakarat jauh
lebih banyak dengan banyaknya output riil yang dihasilkan oleh sistem produksi
maka munculah apa yang disebut inflasi. Harga semakin naik. Disisi lain manusia
yang terlilit dengan utang dan kebutuhan yang semakin tinggi semakin keras
bekerja, mereka semakin menganggap bahwa time is dollar, padahal output
produksi riil itu ada batasnya. Di lain pihak uang yang beredar jauh lebih
cepat jumlahnya karena sistem fractional reserve dan interest tersebut. Maka
muncullah saat ini manusia-manusia yang anti sosial, manusia-manusia yang
selalu punya prinsip cost based activity, bahwa setiap apa yang mereka lakukan
harus menghasilkan uang. Jadilah manusia-manusia yang menjadi budak uang. Hilanglah
sekarang budaya tolong menolong, pinajaman tanpa bunga seperti yang ada pada
jaman Rosulullah, dan sifat-sifat sosial manusia yang lain. Itu baru satu
masalah, coba bayangkan, saat ini pemerintah tidak perlu memback up uang yang
diedarkan dengan koin emas, bisa dibayangkan bagaimana kalau terjadi suatu
kudeta kemudian pemegang kekuasaan mengatakan bahwa uang yang beredar sekarang
sudah tidak berlaku lagi !

        Sebenarnya hal
tersebut di atas masih sedikit dari apa yang diungkapkan pada diskusi tersebut.
Kalau anda tertarik saya merekomendasikan buku yang dibuat oleh pak Ahmad
Riawan Amin tersebut. Di toko buku palasari kemarin saya membeli seharga 17500.
Di sana banyak fakta menerik yang diungkapkan, bagaimana Amerika bisa membangun
sistem ekonomi global seperti sekarang, bagaimana dia bisa membeli sumber daya
alam negara dunia ketiga hanya bermodal selembar cek atau utang yang sebenarnya
adalah cek kosong alias cek yang tidak diback up sama sekali dengan uang baik
kertas atau koin emas, sebuah fakta yang mencengangkan bahwa ternyata dollar
diproduksi oleh lembaga yang disebut The Fed yang ternyata bukan milik negara
namun milik beberapa gelintir individu saja, bagaimana ceritanya pada tahun
1997 hanya dalam beberapa malam jumlah kekayaan manusia Indonesia tinggal
seperempatnya, bagaimana ceritanya bahwa sampai kapanpun kita akan selalu akan
tertinggal dari bangsa lain dalam kemampuan ekonomi kalau kita masih seperti
sekarang, dan banyak fakta lain yang sangat menarik untuk dikaji dan tentu saja
yang lebih penting diimplementasikan. Sebenarnya saya juga baru mengerti kenapa
kita harus kembali kepada sistem ekonomi syariah dari diskusi dan beberapa buku
J. HIDUP EKONOMI SYARIAH, SUDAH SAATNYA KITA KEMBALI KEPADA SISTEM GOLD DINNAR
!

Kawan, mereka tengah sekarat

December 23rd, 2007 by lvtfy

Kawan,
masih pantaskah hari ini kita berbicara tentang mimpi dan idealisme? Tahukah
engkau kenapa aku bertanya hal ini ? Tidakkah engkau melihat kalau mereka
tengah sekarat di pangkuan kita sekarang. Aku masih ingat dulu ketika kita
selalu berusaha dan yakin bahwa kita mampu merengkuh keduanya, menjaganya untuk
tetap hidup. Keyakinan dan usaha itulah yang dahulu membuat keduanya selalu
segar. Keduanya selalu bergairah, dia bergerak, meletup, menggelegar, bergerak
dengan lincah ke sana dan kemari, seperti untaian atom yang selalu bergerak
dinamis untuk mencapai kestabilan, sama seperti kita yang tiap hari selalu
bergerak untuk menjaga agar mereka tetap hidup.

Namun
kita sudah tidak mampu untuk melihatnya bergerak lincah lagi, dia tengah
sekarat tidakkah engkau lihat kawan!!! Hal ini yang membuat mulutku tidak mampu
berbicara dan bercerita tentang keduanya, mimpi untuk menjadi manusia yang
bermanfaat, mimpi untuk menjadi oase bagi orang lain, mimpi untuk memberikan
seluruh hidup kita kepada pemilik otoritas nilai atau Tuhan. Namun….

Kita
hampir membunuhnya, tidakkah engkau lihat mereka sedang sekarat kawan ?

Kita
hampir membunuhnya dengan alasan-alasan egosentris kita !!!!

Dahulu
kita berbicara tentang kapitalisme yang harus kita lawan. Namun ternyata baru dua
puluhan tahun, kita telah menjadi bahan bakar kapitalisme itu sendiri. Kita
telah menceburkan diri kita pada samudra kapitalisme sehingga mimpi dan idealisme
tidak menemukan oksigen untuk bernafas. Itulah faktor pertama yang menjadikan mereka
sekarat di pangkuan kita. Kita telah menjadi manusia hipokrit.

Dahulu
mungkin lebih dari separuh waktu kita dalam sehari kita habiskan untuk berlari
dan berlari mengejar mimpi dan mempertahankan idealisme di jas-jas almamater
kita. Namun sekarang, lima hari dalam seminggu kita habiskan untuk bekerja, dan
pada akhir pekan kita habiskan untuk bersenang senang karena dalam lima hari
itu kita merasa bukan waktu yang kita miliki. Namun bukankah lima hari itu
hasilnya adalah untuk kita sendiri ? Berarti dalam seminggu tidak ada satupun
yang tersisi bagi kita agar kita sedikit bermanfaat untuk orang lain ? Atau
dengan kata lain kita sudah terlalu egois untuk menghabiskan semua umur kita
hanya untuk kita sendiri tanpa sadar itulah faktor kedua yang sedikir demi
sedikit telah membuat mimpi dan idealisme kita menjadi sekarat di pangkuan
kita.

Dahulu
kita berbicara bahwa nilai dari diri kita diukur dari seberapa banyak orang
yang mendapatkan manfaat dari kehadiran kita. Namun kenapa sekarang nilai diri
kita di ukur dari di mana kita bekerja, berapa gaji kita, bagaimana jenjang
karir kita, dan hal-hal yang hanya bermuara bagi perut kita ? Lidah kita seakan
sudah kelu untuk membicarakan berapa banyak uang kita yang bermanfaat bagi
orang lain ? Berapa banyak waktu dalam sehari yang kita berikan untuk
memberikan manfaat kepada orang lain ? Dan hal-hal lain yang sebenarnya
nantinya akan bermanfaat pada diri kita sendiri. Inilah faktor ketiga yang
semakin mempercepat idealisme dan mimpi kita mati.

Dan
sekarang …. aku hanya bisa berharap sobat, pada sedikit asa yang tersisa agar
keduanya tidak lekas mati di pangkuan kita, kalau engkau tidak mau
mempertahankan dia hidup, biar aku saja yang berkorban, meskipun orang lain
mengatakan bahwa aku sedang melakukan tindakan bodoh.

Belajar dari Novel (#1)

December 23rd, 2007 by lvtfy

# Listening to :
Souljah – Lelaki “itu” (feat Sundari Sukotjo)
# Current location
: Parijs van Java
# Mood : Chill

 Tidak terasa sudah hampir dua bulan
tidak membeli buku. Padahal biasanya membeli buku adalah sebuah ritual wajib yang
harus dijalani setiap bulan. Ada anggaran khusus yang wajib dialokasikan untuk
membeli buku.

 Kalau dipikir-pikir ada sedikit
pergeseran pada jenis buku yang saya beli. Hal ini terkait juga dengan
pergeseran selera buku apa yang saya baca. Saya keranjingan untuk membaca dan
membeli buku semenjak kelas satu SMA. Sebenarnya ketika SMP sudah lumayan suka
membaca buku sih (saya mempunyai minus mata sejak kelas 3 SMP). Namun rata-rata
yang saya baca pada waktu SMP adalah majalah dan tabloid, jarang saya membaca
buku-buku yang “agak” berbobot. Baru mulai SMA saya menginvestasikan uang untuk
membeli buku-buku yang agak berbobot.

 Rata-rata buku yang saya beli pada
masa-masa awal SMA adalah buku agama dan manajemen diri(terutama buku-buku
tentang teknik belajar seperti Quantum Learning dan Accelerated Learning).
Buku-buku yang saya baca pada saat itu masih berkutat pada apa yang harus saya
lakukan (dengan kata lain lebih bersifat mengatur tidak mengajak berpikir). Karena
saya bukan tipe orang yang suka diatur bagaimana saya berpikir, berperilaku,
dan berpenampilan, saya bosan juga dengan buku-buku seperti itu. Disisi lain
ternyata buku-buku yang katanya mampu melejitkan kemampuan belajar saya tidak
membawa pengaruh baik pada hasil pendidikan saya (kalau yang ini sepertinya
faktor error ada pada diri saya pribadi) karena selama saya duduk di bangku SMA
saya baru dua atau tiga kali masuk sepuluh besar, itupun cuma sepuluh besar
kelas bukan sepuluh besar paralel.

 Setelah bosan dengan buku-buku di
atas, selera buku beralih pada buku-buku filsafat. Saya masih ingat pertama
kali saya dikenalkan dengan filsafat eksistensialisme oleh seorang guru bahasa
inggris saya di sebuah lembaga pendidikan bahasa inggris lumayan terkemuka di
Solo. Awalnya saya tertarik untuk mempelajari filsafat eksistensialisme sebagai
referensi untuk adu argumen ketika diskusi(hampir sebagian besar jam dalam
proses kursus digunakan untuk diskusi dengan bahasa Inggris). Dari sini saya
belajar untuk berbeda pendapat, tidak serta merta memberikan justifikasi kepada
orang bahwa dia benar atau salah. Tema dikusinya pun lumayan provokatif,
seperti setujukah anda dengan Pre Married Sex alias seks sebelum menikah. Bagi
orang timur seperti kita pertanyaan seperti itu pasti dapat dengan mudah kita
jawab dengan satu kata tidak. Namun ketika ketika kita beradu argumen dengan
orang yang tidak satu pemikrian, ternyata banyak orang dibelahan bumi lain yang
menganggap bahwa pre married sex jauh lebih baik untuk menentukan harmonis
tidak nya suatu perkawinan yang akan mereka lakukan alias kalau mereka ingin
menikah mereka harus melakukan pre married sex terlebih dahulu. Mereka tidak
hanya berspekulasi saja dalam memberikan argumen, namun mereka juga memberikan
fakta-fakta yang mencengangkan untuk mendukung pemikiran mereka. Nah, hal-hal seperti
ini adalah cikal bakal letupan-letupan kritis pada diri saya untuk menggali
lebih dalam berbagai macam hal yang dianggap sudah menjadi standar kebenaran
manusia umum, namun masih perlu dikaji lebih dalam, mungkin untuk menjatuhkannya
atau mungkin untuk emmperkuat angapan umum tersebut dengn fakta, bukan dengan
argumen spekulatif.

 Namun ternyata di sisi lain
buku-buku tersebut tidak memberikan pencerahan kepada diri saya. Bagi saya,
ilmu yang bermanfaat itu selalu memberi cahaya bagi orang yang memilikinya,
atau dengan kata lain ilmu itu harus memberikan manfaat kepada pemiliknya. Di
sini saya membedakan istilah manfaat dengan solusi. Bagi saya ilmu yang benar
itu selalu memberikan manfaat meskipun di sisi lain tapi belum tentu memberikan
solusi. Karena ada suatu kondisi ilmu itu hanya memberikan sebuah pertanyaan
yang harus kita cari jawabannya dengan ilmu yang lain. Ilmu seperti inilah yang
akan selalu menghasilkan ide-ide segar dan inovasi baru dalam bidang apapun,
karena ilmu yang memberikan solusi berarti bukan sebuah hal yang baru untuk
kita temukan. Filsafat memang lebih banyak memerbikan pertanyaan-pertanyaan
terbuka kepada mereka yang mempelajarinya, namun jawaban-jawaban yang
ditawarkan tau dihasilkan hanya berasal dari argumen argumen spekulasi tanpa
fakta dan dasar. Ribet ya bacanya
J. Intinya
saya masih percaya pada otoritas Tuhan. Bahwa titah Tuhan tetap merupakan
standar nilai satu-satunya di dunia, bukan yang lain.

 Dari hal itu saya berhenti untuk
membaca buku-buku filsafat, ditambah dari sejarah filsafat eksistensialisme
banyak dari mereka para filosuf yang akhirnya mati dengan kondisi yang
mengenaskan dan banyak diantaranya yang bunuh diri  Setelah itu selera buku saya kembali pada masa
lalu(-tabloid dan majalah). Apalagi ditambah pada saat itu sedang
ramai-ramainya musik Hip Metal, Hard
Core, Punk
dsb. Bisa dikatakan saat itu adalah masa vakum saya dalam
membaca buku. Boleh dibilang saya sepertinya sudah tidak punya waktu untuk
membaca buku. Semakin beratnya pelajaran di sekolah, semakin seringnya jadwal
ngejam di studio (cieehhh), dan
semakin banyaknya pertandingan sepak bola dan futsal di SMA semakin menambah
daftar kegiatan yang mengurangi waktu membaca saya. Hal ini berlangsung sampai
masa-masa pasca EBTANAS.

 Nah, kegiatan mebaca buku kembali
saya lakukan ketika masa-masa kuliah. Pada awalnya agak sulit untuk kembali
membiasakan membaca buku. Tapi karena jadwal ngejam sudah tidak ada, jadwal
kuliah juga tidak padat, kampus juga dekat (saat SMA setiap hari saya harus
naik bus atau memacu motor sepanjang 45 kilometer), tidak punya klub futsal(one thing that makes me fatter and fatter
every day, as you know i was 68 kgs when i was SMA, and now…arghhhhhh)

akhirnya saya terbiasa kembali untuk membaca. Buku apa yang saya baca ? Yeah computer books and lecture pappers. How
boring….
..

bersambung

Tergantung

November 7th, 2007 by lvtfy

    Tidak banyak sekolah formal yang mengajarkan bagaimana mencari ide yang baik. Sekolah formal terlalu sering menekankan what is it to be learned bukan how is it to be learned. Sehingga yang terjadi adalah sekolah tidak jauh dari pelajaran menghafal dan menghafal, tidak banyak sekolah yang mengajarkan bagaimana cara berpikir. Kita lihat saja fenomena yang terjadi pada sekolah formal terutama fenomena ini sangat terlihat pada sekolah-sekolah ilmu sosial salah satunya adalah sekolah manajemen. Pada umumnya siswa masih berkutat dengan memperdebatkan apakah itu manajemen, bagaimana menjadi manajer yang baik, bagaimana mengelola keuangan perusahaan dengan baik, yang tentunya semuanya itu harus sesuai dengan buku. Manajemen adalah sebuah ilmu terapan yang selalu berubah dari waktu ke waktu. Sesuatu yang sangat naif atau tidak masuk akal pada ilmu manajemen saat ini suatu ketika bisa menjadi suatu fakta dan kebenaran yang mencengangkan. Sebagai contoh, tidak pernah terbayangkan sebelumnya ketika awal-awal perkembangan software, software yang dibuat dengan susah payah akan diberikan kepada user dengan gratis. Sampai muncul sebuah breakthrough dari seorang Richard Stallman dan Linus Torvalds yang memunculkan GNU dan Linux. Banyak model manajemen yang dulu sangat bertentangan dengan teori tapi sejalan dengan waktu ternyata teori-teori tersebut yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Nah, sekolah-sekolah saat ini terlalu banyak mencetak manusia-manusia pengikut teori terkini, yang tetap setia dengan teori ini salah itu benar, ini sesuai teori itu tidak sesuai teori, dengan mengabaikan bahwa dunia selalu dinamis dan berubah. Sekolah formal jarang menghargai seseorang yang mempunyai pemikiran yang bertentangan dengan keyakinan orang kebanyakan. Dalam manajemen kita berbicara tentang sebuah ilmu sosial, bukan ilmu eksakta yang bernilai benar atau salah, satu atau nol. Tapi kenapa sekolah formal dengan angkuhnya mengatakan ini benar atau itu salah kepada pemikiran seseorang hanya karena tidak ada teori dari para ahli terkemuka yang setuju dengan pendapatnya.  Maka bagi saya pilihan untuk menjadi seorang akademisi sangat berat, karena ada kecenderungan bahwa menjadi kaum akademisi berarti harus siap untuk menjadi pengikut setia terhadap teori-teori terkini, tanpa memberikan ruang bagi dia untuk berpikir merdeka.
    Lalu bagaimana solusinya ? Bagi saya hanya satu pilihan, semua harus menjadi pelaksana, semua harus menjadi praktisi. Management is an art. Tidak ada patokan yang bisa mengatakan ini benar itu salah, semua sangat cair,sangat adaptif terhadap kondisi, jadi bagi saya semua jawaban bagi pertanyaan pada ilmu sosial terutama manajemen adalah TERGANTUNG.

Business Mentor

October 31st, 2007 by lvtfy

   Today I began  my life with laziness. Slept again after Subuh and woke up on 9  a.m. I didn’t go to work today, dunno just got bored anyway teaching those miserable  students. I got mad two days ago when i trained a class in campus. I didn’t know what kind of things in their head. It was better I trained an elementary class then them.
    At noon I had an appointment with my  business mentor in Permata Kopo talking about my new plan running business in Jogjakarta. But the rain dropped, it sprayed soft in the beginning but it dropped heavy after some minutes. And you know, yeah, I called him to postpone the meeting and made an appointment again in the evening. He said ok, and we make a deal meeting in Bakso Malang Karapitan in Karapitan road Bandung.
    We talked about anything for 3 hours in BMK. I got a lot of enlightments from him. I feel a new spirit flow in my blood. I admit that he is an untouchable master. It’s a hard thing to meet him. Do you wanna know what he talked to me ? Hmmm… maybe someday I tell ya …. ^-^V

Raja Fantasi Indonesia™

October 28th, 2007 by lvtfy

    Setelah
berbulan-bulan mencari jati diri akhirnya pilihan hidup telah aku tentukan.
Kata Mas’ud lompatan energiku ketika menjalani suatu aktivitas sangat besar,
sehingga tidak semua orang bisa mengerti jalan pikirku. Menurut dia, aku adalah
orang yang dominan otak kanan. Nekad, imajinatif, gampang bosan, penuh fantasi
adalah beberapa karakter umum dariku yang dia kenal sampai sekarang. Bahkan
saking parahnya, sekarang aku telah diangkat sebagai Raja Fantasi Indonesia™ .
Masih mending dicap sebagai Raja Fantasi Indonesia™ anak-anak mengira aku
sekarang mempunyai penyakit schizoprenia. Mereka sudah tidak gampang percaya
lagi kalau aku bercerita tentang seseorang yang aku kenal sampai mereka
benar-benar bertemu dengan orang tersebut, “Jangan-jangan itu hanya dalam
fantasimu saja ?” itu adalah kalimat yang terucap dari mulut mereka kalau aku
bercerita tentang seseorang. Kata mereka hal ini disebabkan dalam bulan-bulan
ini aku akan ditinggal married dua
kali.

 Memang sih karakter-karakter yang
disebutkan mas’ud di atas tidak bisa aku sangkal. Apalagi setelah aku cross check kepada orang-orang
disekitarku. Mereka tidak pernah habis pikir terhadap apa yang aku lakukan dan
pikirkan. Apalagi dalam beberapa bulan terakhir. Banyak kejadian-kejadian yang
membuat orang-orang di sekitarku tidak bisa mengerti dengan cara pikirku.
Pertama sampai sekarang aku tercatat baru melamar pekerjaan tiga kali, itupun
ketika dipanggil aku tidak pernah datang, yang terakhir adalah ketika aku tidak
datang untuk test Dosen Tetap STTTelkom. Padahal kalau dilihat track record lulusan STTTelkom hampir
100% lulusannya telah bekerja mapan di perusahaan-perusahaan bonafid semacam
Telkom, Telkomsel, XL, Indosat, dsb. Kedua dalam beberapa bulan terkahir aku
sudah pindah pekerjaan sebanyak empat kali dan sebentar lagi yang ke lima. Di
saat orang lagi bingung mencari pekerjaan dan berusaha agar tidak dipecat dari
pekerjaan aku malah gonta-ganti pekerjaan, sepertinya tidak ada atasan yang
berhasil menahanku untuk tidak tidur setelah sholat subuh dan bangun lagi
setelah jam 9 pagi
J. Ketiga
aku menolak beasiswa sekolah S2 dari STTTelkom padahal semua test dari test
tertulis sampai dengan wawancara untuk mendapatkan beasiswa sudah aku lalui dan
aku lolos, namun (sekali lagi) aku tidak jadi mengambil (kata orang) kesempatan
ini.

September 30th, 2007 by lvtfy

# Listening : Saosin – 7 Years
# Activity : Waiting for someone with steady
hand to hold on, and a sincere smile to keep me withstand
# Mood :

Menangis…
Menangislah
yang dalam
Ketika
tiupan sang angin sudah tidak mampu lagi membuatmu bergeser satu hasta kedepan

Bertahan…
Bertahanlah
dalam kesendirian
Meskipun
sepi tidak tertarik untuk menemani
Dan
sunyi pun enggan untuk berbagi

Yang aku lakukan hanyalah mencoba untuk terus
berlari. Sudah tidak terhitung lagi aku terjatuh karena memang tidak tertarik
aku menghitungnya.

Yang aku lakukan hanyalah merangkak dan
bertahan. Ketika tak seorangpun mau untuk memapahku. Karena mereka berpikir,
yang aku lakukan hanya sia-sia.

Yang aku lakukan hanyalah mencoba dan mencoba.
Sampai suatu ketika akan datang padaku seseorang sambil berkata bahwa aku lah
sang pemenang dalam pertarungan ini.

Karena tidak
menarik dunia ini kalau kita tidak pernah tertahan dan terjatuh untuk menjadi
juara

SOBAT

September 30th, 2007 by lvtfy

            6 orang
itu duduk bercengkerama di di emperan sebauh toko. Menikmati secangkir jahe gepuk
dan sebungkus nasi kucing dari sebuah Angkringan. Sesekali muncul tawa yang
renyah diantaranya, memecah sunyinya malam di sebuah desa yang tenang,
Gemolong….

Kenapa kenangan itu
sayup-sayup datang menyapaku malam ini, berharmoni dengan perasaan hati yang
sedang sepi. Aku sepi di tengah kebisingan orang-orang. Aku terasing di dalam hiruk
pikuk kehidupan. Apakah aku terlalu sensitif untuk seorang pria sampai sedemikian
mudahnya kenangan itu menari-nari menguasai pikiran dan jiwaku.

  Aku lihat foto-foto itu. Foto yang
mengingatkan masa-masa itu sobat, ketika kau tepuk pundak ini untuk menyatakan
bahwa engkau bangga pada diriku. Ketika engkau berikan pundakmu agar aku bisa
menumpahkan rasa itu lebih dalam dan dalam lagi. Ketika engkau berikan sapu
tanganmu agar aku bisa mengusap peluh dan air mataku sambil berkata, “Bangkitlah
sobat, aku selalu siap untuk memapahmu kalau engkau terjatuh lagi, namun sekarang
saatnya engkau bangkit untuk kembali berlari !”. Aku rindu saat-saat itu

 Waktu
adalah sebuah dimensi yang bisa mengubur rasa dan kenangan seseorang. Namun
kenapa bagiku waktu ada dimensi yang membuat kenangan-kenangan itu semakin
indah untuk dinikmati. Seperti menghisap lintingan lintingan tembakau yang semakin
lama dihisap semakin sulit diri ini untuk lepas.

 Aku
sudah letih… setiap hari berlari dan berlari namun aku tidak tahu kemana aku
berlari dan untuk apa aku melakukannya. Yang aku lakukan hanya mengikuti
bayangan angin dan lesatan sinar sang surya. Kuikuti mereka hanya karena aku
yakin kesanalah asa itu akan menyambut setiap peluhku. Sebenarnya sudah lama
aku menantikan, kapan lagi ada seorang dari engkau ada disisiku, kita berjalan
beriringan, langkah demi selangkah, jengkal demi sejengkal, sampai suatu ketika
kita bersorak setelah kita tahu bahwa kita telah menjadi pemenang.

Namun
ternyata aku harus berjalan sendirian, sendiri mengejar asaku…

*Sebuncah rasa rindu pada sahabat yang telah
berjalan beriringan selama 10 tahun terakhir, Love you all dudes…*