Archive for June, 2006

renungan buat “alumni” madrasah politik kampus

Wednesday, June 21st, 2006

   

         

      

Entah
kenapa hari ini serasa panjang. Seakan sang mentari enggan segera pergi
meninggalkan langit. Apa karena aku sedang jenuh, menyaksikan bangsa
ini diinjak-injak oleh bangsa lain ??? Menulispun seakan-akan harus aku
paksakan. Seperi biasa, dalam kondisi seperi ini pikiranku terlalu
difuse untuk memikirkan segala sesuatu. Pikiranku melayang entah kemana.

Hari-hari
terakhir seakan aku berjalan dengan sangat lambat, atau mungkin malah
berjalan dengan merangkak. Kadang aku bertanya, masihkah diri ini
berada dalam track kebenaran ilahi ?? Aku tidak takut untuk berjalan
dengan merangkak, yang aku takutkan adalah berjalan mundur seperti
pengecut yang tidak mengakui kebenaran, atau berjalan maju, namun tidak
berada dalam track suci tujuan Tuhan menciptakanku di dunia. Aku ingin
maju, maju menantang sang malam yang penuh dengan pilihan. Meskipun
pilihannya aku harus merunduk maju atau merangkak maju. Namun yang
terpenting adalah aku harus maju ….

Beberapa hari ini pun
seakan banyak kabar berita yang tidak aku amati. Bagaimana kabar Merapi
disana ? Rindu aku dengan belaian pagi dipuncaknya. Tidak terasa sudah
empat tahun aku lewati kehidupanku dengan langit yang berbeda.
Tapak-tapak kaki yang sudah aku lalui seakan meninggalkan makna yang
mendalam dalam kehidupanku, itupun baru tersadar ketika hati ini
tertunduk kepada Tuhan.

Kehidupan
baru ini kadang membuatku bosan. Aku mengunggu saat-saat dimana angin
keras menerpa tubuhku, atau menunggu saat-saat aku menerobos hamparan
hutan lereng gunung Merbabu yang penuh dengan pilihan, seakan-akan aku
harus cepat menentukan kemana arah perjalananku. Atau mungkin aku yang
salah, yang tidak dapat tanggap dengan amanah dan kewajiban baru yang
sudah menghadang di depan mata namun aku tidak menyadarinya ?


*** sebuah renungan buat aktivis kampus yang sudah "pensiun"

Pesan

Wednesday, June 21st, 2006

   

         

      

Hari ini aku lihat kembali

 

Wajah-wajah halus yang keras

 

Yang berbicara tentang kemerdekaaan

 

Dan demokrasi

 

Dan bercita-cita

 

Menggulingkan tiran

 

 

Aku mengenali mereka

 

yang tanpa tentara

 

mau berperang melawan diktator

 

dan yang tanpa uang

 

mau memberantas korupsi

 

 

Kawan-kawan

 

Kuberikan padamu cintaku

 

Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

(Soe Hok Gie)

seberkas cahaya bernama ketulusan ……

Wednesday, June 21st, 2006

   

         

      

Apa
yang ingin aku dapatkan dari semua ini ??? Ketenaran, popularitas, nama
baik, prestise atau apa ??? Kucoba untuk mengembalikan rel semangat
hidup untuk terus berada dalam koridor suci. Koridor dimana para Nabi,
Rosul bersama orang-orang shalih berjuang. Terkadang hati ini terus
memberontak, polarisasi hak dan batil selalu mencoba merongrong labirin
hatiku. Hari ini terkadang kata sudah tidak bermakna. Shock therapy
seakan sudah menjadi solusi hati yang sudah mulai mengeras mengikuti
bisikan syetan. Kadang ku merasa apakah kejenuhan yang kurasakan ini
adalah buah dari sakitnya hati atau hanya sekedar kesempatan uzlah yang
diberikan Tuhan kepadaku ???

Kubaca sebuah buku yang menarik.
Buku yang katanya ditulis oleh seorang punggawa Jama’ah Islamiyah yang
dituduh teroris di dunia ini. Beliau mengatakan, kita berjuang bukan
karena kita punya kekuatan, namun kita berjuang karena memenuhi hak
Tuhan terhadap kita. Aku tersentak, seakan ada sebuah sembilu yang
menikam hati yang sudah lama rindu dengan pelukan para mujahidin. Badan
ku gemetar membaca buku itu, mulutku seakan sudah tidak mampu
mengeluarkan kata-kata, aku malu !!!!!

Jika ingin punya hati
seluas samudera, jangan bergantung kepada makhluk dan jangan
mengharapkan sesuatupun dari makhluk. Harusnya sajadah malamku selalu
basah setiap hari ketika ku teringat ucapan itu. Aku malu, aku ragu,
apakah sekian lama perjuangan ini sia-sia hanya karena aku banyak
berharap kepada makhluk ?????

*** Sebuah renungan untuk aktivis kampus :)

the prince of love

Wednesday, June 21st, 2006

      

The
Prince of Love, sebuah buku yang aku beli sehari kemarin. Sudah lama
aku merindukan buku orang-orang jalanan, yang mendapatkan hidayah dari
jalanan. Kadang aku rasa ini adalah sisi buruk manusiawi yang ada
padaku, yang mencari kebenaran bukan dari orang-orang "suci", yang
tidak pernah mengalami apa itu jahiliyah. Aku memang orang jalanan,
yang mendapatkan hidayah untuk mensyukuri Dien ini bukan dari lahir
ketika orang tuaku menggemakan adzan ditelinga kiriku. Namun aku
mensyukuri diriku dalam pelukan Dien ini baru ketika diriku ada di
jalanan, yang sudah muak dengan berbagai konsepsi busuk buatan manusia.
Aku sudah terlalu lama merasakan dan mengalami konsepsi jahiliyah yag
tidak ada bedanya dengan konsep bangsa Tar-Tar yang dihancurkan Ibnu
Taimiyah karena konsep "penyatuan millah"-nya. Dien ini terlalu suci
untuk dikotori oleh berbagai macam konsepsi kotor buatan manusia.
Teringat diriku akan sebuah sejarah kenabian ketika Rasulullah marah
melihat Abu Bakar membawa selembar kitab Taurat, "Andai saja Musa
berada pada zaman ini, dia harus mengikuti ku !" Sabda beliau. Hari ini
seharusnya umat marah, bahkan bukan hanya hari ini, seharusnya umat
marah semenjak tahun 1924, ketika millah suci ini diruntuhkan oleh
tangan-tangan jahili. Rasulullah memperbolehkan marah untuk alasan ini,
marah karena Dien ini diinjak-injak oleh konsepsi busuk buatan manusia,
dan direnggutnya hak Allah sebagai satu-satunya pembuat syari’at ….

 

   

   
   
      

posted by Arief Lutfi Hendratmono at 10:49 PM
      

         0 comments
      
 

Dalam perenunganku …

Friday, June 9th, 2006

Akhir-akhir
ini cobaan seakan tidak pernah memberiku kesempatan untuk bernafas.
Namun kadang kala aku berfikir, sebenarnya bagiku tidak ada bedanya
antara cobaan dan nikmat. Dua-duanya baik, kata Rasulullah Muhammad
Khalilullah, ketika seorang hamba mendapat cobaan dan dia bersabar maka
itu baik baginya, dan apabila dia mendapatkan nikmat dan dia bersyukur
maka itu juga baik baginya. Perfecto !!!!
Bagi sebagian orang, setiap kejadian mempunyai persepsi yang
berbeda-beda bagi yang mengalaminya, kadang ada yang menganggap itu
adalah cobaan, namun kadang ada yang menganggap itu adalah nikmat.
Namun bagiku, itu hanyalah paradoks kasih sayang dari Tuhan kepada
hambanya, karena kita tidak bisa memandang itu hanya dari satu sisi,
saya yakin ketika kita bisa memandang secara utuh, tidak akan ada
dikotomi antara nikmat dan cobaan. Oke lah what ever jika memang itu
sulit difahami, biarkan pikiran gilaku saja yang mempersepsikannya ….

berjuang

Friday, June 9th, 2006

   

         

      

Ku terjatuh, ku terperih …
mengarungi garis hidup linier dengan titik bercabang surga dan neraka
sambil mengumpulkan daun berserak yang bernama hikmah
sesekali aku jatuh dan berkata, bangun !
karena hari esok belum tentu ada

ku menengok ke belakang dan ke samping
melihat siapa yang bersama ku saat ini
kadang ternyata aku sendirian
kadang sahabat mendampingi

baris demi baris bait-bait dari lauful mahfudh sudah mulai terlewati
kadang ku merasa bait-bait itu kosong
kosong dengan pengabdian dan penghambaan
kadang bait-bait itu terisi penuh hingga mengeluarkan darah dan air mata
namun aku yakin
semuanya akan selalu indah ….

*** sebuah renungan seorang hamba yang fakir dalam perjuangan menegakkan kalimat Nya

Super OC PDKT 2006

Friday, June 2nd, 2006

Mediocre teacher tells

Good teacher explains

Superior teacher demonstrates

Great teacher inspires

William A.
Ward

Super Organizing Committee PDKT 2006

  Selamat datang sahabat, selamat datang di
sebuah barisan insan yang siap untuk berjuang. Sebelum engkau benar-benar
bergabung dengan kami, tanyakan terlebih dahulu hatimu, untuk apa engkau
korbankan tenaga, uang dan waktumu untuk mengemban amanah ini ? Inti dari
barisan kami adalah niatan bersih wujud kecintaan kami akan Tuhan kami, dengan
menjadi penyeru dan pembina manusia-manusia baru yang kelak akan memimpin
bangsa ini. Kami tidak ingin niatan tersebut terkotori dengan niatan individu
yang ingin tenar dan mencari popularitas. Kemudian setelah engkau jawab
pertanyaan itu, tanyakan kembali kepada hatimu, siapkah engkau dengan berbagai
macam konsekuensi yang mungkin akan engkau terima dalam perjalanan bersama barisan
kami ini ?  Perjalanan barisan kami akan
melalui berbagai macam medan yang bisa jadi belum pernah engkau lewati, bisa
jadi sekarang kita sedang berjalan datar atau bahkan landai, sehingga kita
tidak terlalu berkeringat dan bersusah payah, namun kita tidak tahu mungkin
esok hari kondisi tersebut akan berubah 180 derajat. Kalau memang engkau siap
baiklah akan kita mulai pengenalan terhadap komponen barisan kami.

 Komponen barisan kami yang pertama
adalah spiritual excellent, barisan
kami akan menjadi penyeru manusia yang haus akan pengabdian terhadap Tuhannya. Akan
mencoba untuk mengingatkan manusia akan fitrahnya, yaitu eksistensi dia sebagai
seorang hamba, yang tentu saja mempunyai konsekuensi yang hebat manakala
manusia sudah sadar bahwa dirinya adalah seorang hamba, yaitu pengabdian total
kepada sang khalik, dan pengingkaran total manusia terhadap toghut. Setelah
engkau berkenalan dengan komponen pertama barisan kami coba fahami dia, karena
dia adalah bekal utama kita dalam menghadapi kesulitan kelak ketika kita
berjalan beriringan dalam menghadapi berbagai kesulitan yang ada. Dia adalah
teman abadi kita ketika tidak ada seorangpun yang memotivasi kita.

 Komponen barisan kami yang kedua
adalah personal fantastic. Kita
memang bukan manusia yang terbebas dari kesalahan, namuan karena kesalahan
manusia itulah kita bisa belajar dan menjadi lebih baik lagi. Sebuah barisan
yang solid tersusun dari pribadi-pribadi yang unggul dan berdedikasi. Kalau
engkau belum merasa unggul jangan khawatir, karena engkau akan mendapatkan
materi perkuliahan yang bernama masalah, karena dengan masalah kita dipaksa
untuk berfikir dan bekerja.

 Komponen barisan kami yang ketiga
adalah super team. Tuhan menciptakan
perbedaan bukan tanpa alasan. Nilai atau value muncul karena perbedaan,
sehingga kalau kita memang berbeda itu tidak menjadi masalah, bahkan kalau
memang perlu kita harus berbeda. Kita bukan seperti team baris berbaris, yang
setiap perbedaan yang ada selalu dimarginalkan, bahkan kalau perlu dihilangkan.
Namun kita ibarat team sepak bola, yang mewajibkan adanya perbedaan, karena
dari perbedaan itulah kita akan bisa memecah berbagai macam permasalahan
menjadi permasalahan yang lebih kecil dan kita bisa menyelesaikannya. Tidak ada
aktor utama disini, karena semua orang mempunyai porsi peran yang sama dalam
mencapai tujuan bersama kita.

 Komponen selanjutnya adalah innovaction atau inovasi dan action. Barisan
kami bukan hanya berisi orang-orang yang pandai bercerita dan berdiskusi, namun
lebih banyak berisi orang-orang yang cakap lisan dan cakap amal. Dalam
perjalanan, kita akan lebih banyak bekerja dan beramal. Untuk pertama, silakan
keluarkan semua ide yang engkau punya, apapun itu. Setelah itu batasi dengan
koridor yang ada, kemudian yang terpenting adalah laksanakan !!!!

 Komponen terakhir dalam barisan kami
adalah great management, ada sebuah
perkataan menarik dari seorang tokoh, bahwa kebatilan yang terorganisir akan
mengalahkan kebenaran yang terorganisir. Barisan kami adalah barisan yang
teratur, yang bergerak mematuhi koridor yang ada, tidak hanya sekedar
menggunakan otot kami, namun juga menggunakan otak dan hati kami.

 Dan terakhir, setelah engkau mengenal
semua komponen kami, fahami mereka, dan amalkan mereka, karena itu semua adalah
bekal utama ketika engkau beruang bersama kami di barisan ini.

 

 

Kita adalah buah jeruk

Yang kehadirannya selalu dinantikan

Karena harum baunya sekaligus enak
rasanya

Yang manis lisannya sekaligus cakap
amalnya ….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah catatan kecil

 untuk menyambut kehadiran rekan-rekan

 Super OC PDKT 2006