renungan buat “alumni” madrasah politik kampus

   

         

      

Entah
kenapa hari ini serasa panjang. Seakan sang mentari enggan segera pergi
meninggalkan langit. Apa karena aku sedang jenuh, menyaksikan bangsa
ini diinjak-injak oleh bangsa lain ??? Menulispun seakan-akan harus aku
paksakan. Seperi biasa, dalam kondisi seperi ini pikiranku terlalu
difuse untuk memikirkan segala sesuatu. Pikiranku melayang entah kemana.

Hari-hari
terakhir seakan aku berjalan dengan sangat lambat, atau mungkin malah
berjalan dengan merangkak. Kadang aku bertanya, masihkah diri ini
berada dalam track kebenaran ilahi ?? Aku tidak takut untuk berjalan
dengan merangkak, yang aku takutkan adalah berjalan mundur seperti
pengecut yang tidak mengakui kebenaran, atau berjalan maju, namun tidak
berada dalam track suci tujuan Tuhan menciptakanku di dunia. Aku ingin
maju, maju menantang sang malam yang penuh dengan pilihan. Meskipun
pilihannya aku harus merunduk maju atau merangkak maju. Namun yang
terpenting adalah aku harus maju ….

Beberapa hari ini pun
seakan banyak kabar berita yang tidak aku amati. Bagaimana kabar Merapi
disana ? Rindu aku dengan belaian pagi dipuncaknya. Tidak terasa sudah
empat tahun aku lewati kehidupanku dengan langit yang berbeda.
Tapak-tapak kaki yang sudah aku lalui seakan meninggalkan makna yang
mendalam dalam kehidupanku, itupun baru tersadar ketika hati ini
tertunduk kepada Tuhan.

Kehidupan
baru ini kadang membuatku bosan. Aku mengunggu saat-saat dimana angin
keras menerpa tubuhku, atau menunggu saat-saat aku menerobos hamparan
hutan lereng gunung Merbabu yang penuh dengan pilihan, seakan-akan aku
harus cepat menentukan kemana arah perjalananku. Atau mungkin aku yang
salah, yang tidak dapat tanggap dengan amanah dan kewajiban baru yang
sudah menghadang di depan mata namun aku tidak menyadarinya ?


*** sebuah renungan buat aktivis kampus yang sudah "pensiun"

One Response to “renungan buat “alumni” madrasah politik kampus”

  1. iman Says:

    Alumni tidak berarti tidak peduli kan? :)

Leave a Reply