seberkas cahaya bernama ketulusan ……
Apa
yang ingin aku dapatkan dari semua ini ??? Ketenaran, popularitas, nama
baik, prestise atau apa ??? Kucoba untuk mengembalikan rel semangat
hidup untuk terus berada dalam koridor suci. Koridor dimana para Nabi,
Rosul bersama orang-orang shalih berjuang. Terkadang hati ini terus
memberontak, polarisasi hak dan batil selalu mencoba merongrong labirin
hatiku. Hari ini terkadang kata sudah tidak bermakna. Shock therapy
seakan sudah menjadi solusi hati yang sudah mulai mengeras mengikuti
bisikan syetan. Kadang ku merasa apakah kejenuhan yang kurasakan ini
adalah buah dari sakitnya hati atau hanya sekedar kesempatan uzlah yang
diberikan Tuhan kepadaku ???
Kubaca sebuah buku yang menarik.
Buku yang katanya ditulis oleh seorang punggawa Jama’ah Islamiyah yang
dituduh teroris di dunia ini. Beliau mengatakan, kita berjuang bukan
karena kita punya kekuatan, namun kita berjuang karena memenuhi hak
Tuhan terhadap kita. Aku tersentak, seakan ada sebuah sembilu yang
menikam hati yang sudah lama rindu dengan pelukan para mujahidin. Badan
ku gemetar membaca buku itu, mulutku seakan sudah tidak mampu
mengeluarkan kata-kata, aku malu !!!!!
Jika ingin punya hati
seluas samudera, jangan bergantung kepada makhluk dan jangan
mengharapkan sesuatupun dari makhluk. Harusnya sajadah malamku selalu
basah setiap hari ketika ku teringat ucapan itu. Aku malu, aku ragu,
apakah sekian lama perjuangan ini sia-sia hanya karena aku banyak
berharap kepada makhluk ?????
*** Sebuah renungan untuk aktivis kampus