the prince of love

      

The
Prince of Love, sebuah buku yang aku beli sehari kemarin. Sudah lama
aku merindukan buku orang-orang jalanan, yang mendapatkan hidayah dari
jalanan. Kadang aku rasa ini adalah sisi buruk manusiawi yang ada
padaku, yang mencari kebenaran bukan dari orang-orang "suci", yang
tidak pernah mengalami apa itu jahiliyah. Aku memang orang jalanan,
yang mendapatkan hidayah untuk mensyukuri Dien ini bukan dari lahir
ketika orang tuaku menggemakan adzan ditelinga kiriku. Namun aku
mensyukuri diriku dalam pelukan Dien ini baru ketika diriku ada di
jalanan, yang sudah muak dengan berbagai konsepsi busuk buatan manusia.
Aku sudah terlalu lama merasakan dan mengalami konsepsi jahiliyah yag
tidak ada bedanya dengan konsep bangsa Tar-Tar yang dihancurkan Ibnu
Taimiyah karena konsep "penyatuan millah"-nya. Dien ini terlalu suci
untuk dikotori oleh berbagai macam konsepsi kotor buatan manusia.
Teringat diriku akan sebuah sejarah kenabian ketika Rasulullah marah
melihat Abu Bakar membawa selembar kitab Taurat, "Andai saja Musa
berada pada zaman ini, dia harus mengikuti ku !" Sabda beliau. Hari ini
seharusnya umat marah, bahkan bukan hanya hari ini, seharusnya umat
marah semenjak tahun 1924, ketika millah suci ini diruntuhkan oleh
tangan-tangan jahili. Rasulullah memperbolehkan marah untuk alasan ini,
marah karena Dien ini diinjak-injak oleh konsepsi busuk buatan manusia,
dan direnggutnya hak Allah sebagai satu-satunya pembuat syari’at ….

 

   

   
   
      

posted by Arief Lutfi Hendratmono at 10:49 PM
      

         0 comments
      
 

Leave a Reply