takut untuk sekolah lagi

    Ada sebuah planning yang diharapkan oleh orang tuaku manakala aku sudah lulus sarjana, yaitu melanjutkan sekolah, raih ilmu dan gelar sebanyak yang aku bisa. Pada awalnya aku menganggap hal itu merupakan hal yang wajar, meskipun secara pribadi aku tidak terlalu suka gelar yang terlalu tinggi, yang belum tentu sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki. Apalagi ditambah orientasiku sangat berbeda dengan orientasi orang tuaku dalam memandang permasalahan sekolah. Orang tua ku menganggap bahwa sekolah formal merupakan sebuah prestise dan kebanggaan tersendiri, apalagi ditambah ketika lulus langsung kerja dan mempunyai jabatan yang tinggi. Bagiku memang hal itu tidak sepenuhnya salah, namun bagiku, life university lebih penting, sebuah proses pendewasaan berfikir, perpikir kritis dan terbuka, berinovasi tanpa harus dibebani dengan landasan teori yang pernah ada, yang belum tentu sesuai dengan permasalahan yang berkembang, merupakan buah dari life university.
    Aku merupakan tipe orang yang berpikir terbuka, yang tidak terbelenggu dalam suatu pola pemikiran tertentu (kecuali dalam hal spiritual). Aku memang orang yang sangat suka membaca, terkadang aku merasakan banyak manfaat dari membaca, namun sering juga ternyata karena membaca aku menjadi seorang tekstualis yang tidak bisa bepikir lebih jauh dengan menembus batasan teori-teori yang ada dalam buku yang aku baca. Ada hal yang sering aku iri terhadap orang yang jarang membaca, mereka bisa berpikir merdeka, pola berpikirnya tidak  dibatasi dengan suatu teori apapun yang ada dalam buku, sehingga menghasilkan condition oriented solution.
    Permasalahan yang harus dihadapi dalam hidup ini sangat unik, tidak ada satupun masalah yang benar-benar sama mirip, sehingga aku merasa seharusnya solusi yang dihasilkanpun harus benar-benar unik, yang tidak pernah sama, atau terikat dengan aturan-aturan tertentu. Hal inilah yang merupakan permasalahan utama ketika kuliah. Aku merasa kuliah hanya memaksa orang untuk berpikir seragam, memang pada hasilnya ada beberapa yang beda, namun saya yakin bedanya pun tidak jauh. Kenapa orang berpikir seragam, karena dengan kuliah cara-cara berpikir merekapun sudah terkerangka dengan suatu teori yang sudah ada, sehingga kerangka dan pola berpikirnya setiap orang dalam perkuliahan selalu sama tidak boileh berbeda, apalagi ketika ada dosen yang mengharuskan mahasiswa ketika menyelesaikan permasalahan harus sesuai dengan teori yang ada. Hal inilah yang merupakan penyebab utama kenapa sekolah hanya akan menghancurkan inovasi seseorang. Kalau dipikir pikir apa sih kesakralan teori-teori yang sudah ada ???? Sebagai contoh, dalam mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak yang aku hadapi di semester 4 dan 6, kita diwajibkan untuk menurut dengan kerangka berfikir seseorang, padahal bisa jadi dia mempunyai cara sendiri yang unik yang mungkin berbeda dan lebih baik dengan teori yang sudah ada. Hal inilah yang membuat aku taku untuk kuliah lagi dan mendingan kuliah di life university yang membuat ku bebas berpikir dan berkreasi semau apa yang aku mau ….. :)

One Response to “takut untuk sekolah lagi”

  1. masan Says:

    ada yang pernah bilang k rsm kalo ngekomunikasiin hal-hal kaya gini ke ortu t susah…tapi gimana pun teteup harus dikomunikasiin..
    k2, berjuang…!!!ganbatte…
    k Lutfi yang rsm kenalkan pantang nyerah, pntr ngles pula, gunain keahlian ngeles k2 atuh..rsm doain d…status rsm kan skg yang terzlmi, jadi i_4JJl makbul…
    k2 psti lbh berpengalamanlah mslh gmn crx ngrayu ortu…
    tapi…kalo dipikir2 k2 emg udaha g co2k skul lg, coz ud ketuaan, hehe..becanda…serius jg gp2…

    _r i s m a _

Leave a Reply