Sebuah Catatan Pendek di Celana Biru Donkerku

Gimana nih kabarnya,

Apakah semua yang kita impikan dahulu semakin dekat dengan bayang-bayang kita, ataukah semua masih menunggu untuk dijemput seiring dengan kedewasaan kita? Ternyata perjalanan ini tak semudah yang kita bayangkan. Akhir-akhir ini aku merasa tidak enak, entah apa yang aku pikirkan saat ini. Sesuatu yang baru sering beriring mengantarku untuk lebih tau dimana dunia itu berpihak.

Ternyata sudah beberapa tahun aku menginjakan kaki ini di bawah naungan langit yang berbeda. Semuanya seperti mimpi, membuai hingga tak terasa usiaku semakin berkurang.

Di sini aku melangkahkan kakiku. Walau harus berlari, ataupun berjalan pelan itu bukan suatu masalah. Karena yang penting, bukan seberapa cepat kita berjalan, namun ke manakah arah yang akan kita tempuh. Ada beberapa pilihan, berlari mundur sebagai seorang pengecut atau ke depan menantang sang malam

Hari ini kesadaranku semakin tergugah. Alam yang dulu telah membesarkan kita, ternyata menuntut untuk diberi sebuah pembelaan. Entah dalam hal apa, aku kurang tahu. Atau mungkin itu sebuah kesengajaan? Agar kita selalu sadar bahwa matahari selalu menunggu kita untuk diberi sebuah jawaban.

Beberapa hari ini aku sedikit tertinggal dengan berita di luar sana. Bagaimana kabar gunung merapi di sana? Aku rindu dengan belaiannya. Saat-saat ketika aku merasa tenang berada di pundaknya yang tegar, ditemani bunga-bunga rumput yang selalu setia berada di dekatnya. Apakah wajah sang malam masih berada di bawah bayang-bayang tiran? Seperti dahulu ketika mimpi masih menjadi sebuah angan-angan yang suci. Namun seperti biasa aku hanya bisa bersenandung spektrum dua nada:

masih segar dalam ingatan sang malam
ketika bulan dan bintang saling duduk bersisian
dari keduanya muncul keelokan perbedaan dalam kelengkapan
dua tanda saling berkaitan
yang satu meniadakan yang lain
yang satu ada karena yang lain

Bandung, beberapa hari menjelang kedatangan sahabat perjuanganku yang baru …

Leave a Reply