Kangen Nulis
Waktupun berlalu, menggoreskan berjuta kenangan yang terkadang sayup-sayup berbisik dan terkadang berteriak membacakan surat dari ilahi rabbi. Surat tanda cinta dari Dzat yang menguasai jasad dan ruh beserta semua yang ada di Alam, seolah tiada bosan untuk bertutur, "Kemari ke sini hamba Ku, aku sudah merindukanmu !". Namun sering kali telinga inilah yang menjadi filter surat cinta ketika dibacakan, sehingga terkadang surat itu berceceran tanpa meninggalkan bekas apapun dalam diri hamba. Hingga suatu saat kita baru ingat ketika maut mengajak bersua.
Aku tidak percaya dengan kesedihan, masalah, musibah, bencana, atau apapun itu, karena yang ada adalah bisikan dan pelukan kasih sayang, sehingga yang aku yakini adalah, aku sedang melewati anak tangga itu. Anak tangga dari sebuah tangga emas menuju sosok kekasih Tuhan yang didamba. Meskipun terkadang aku harus berhenti sejenak untuk merenung, atau terkadang harus melewati beberapa anak tangga sekaligus yang terkadang licin, berkarat, atau bahkan terkadang ada saja orang yang iseng untuk menjebakku dengan berbagai macam perangkap agar aku tidak bisa melewatinya, atau malah suatu ketika aku harus turun beberapa langkah ke bawah untuk melihat apa saja yang pernah terjadi. Namun aku tetap saja bahagia, karena aku tahu, aku sedang menuju-Nya, bukan yang lainnya….