Archive for March, 2007

Menjadi Manusia Mati

Monday, March 12th, 2007

A enlightening discourse from Gede Prama

Seorang rekan
eksekutif yang lama bekerja di Aceh, pernah bertutur tentang
pengalamannya mengintip seorang tentara yang dihukum di salah satu  DOM
(daerah operasi militier) di Aceh.  Ketika terhukum diminta membacakan
sapta marga, dengan menahan tawa eksekutif tadi mendengar jawaban
seperti berikut. ‘Sapta Marga : satu, tidak berubah. Dua, tidak
berubah. Tiga, tidak berubah’. Tentu saja jawaban dengan logat ‘T’ ala
orang aceh ini langsung dipotong sang komandan : ‘Apa maksud kamu ?’.
Dengan ekspresi ketakutan terhukum menjawab : ‘Dari dulu seperti itu’.

Satu spirit dengan cerita unik ala Aceh ini, jawaban yang paling
saya benci bila berhadapan dengan klien adalah : ‘dari dulu seperti
itu’. Kalimat ini memberikan kesan ke saya, bahwa selama orang ini
bekerja hanya melaksanakan segala hal yang sudah ada. Lebih dari itu,
semakin banyak orang yang berargumen seperti ini, semakin mungkin
organisasinya terkena kanker learning diasbilities.

Padahal, gelombang perubahan yang demikian dahsyat, sudah sering
tidak menyisakan sedikitpun organisasi yang hanya berisi museum. Lihat
saja ‘almarhum’ perusahaan yang menjulang di zaman orde lama maupun
orde baru. Atau, bangsa-bangsa yang sedang dilanda krisis total.
Semuanya mengindikasikan satu penyakit  yang sama : learning
disabilities.

Ciri-ciri penyakit terakhir, di permukaan, terlihat jelas dalam
keengganan untuk berubah, mengulangi keputusan dan cara yang sama
secara berulang-ulang, tidak sensitif terhadap perbedaan, dan bahkan
memaksa dan memperkosa setiap perbedaan. Di tingkat yang agak lebih
dalam, Donald Schon dari MIT, pernah memberikan perangkat yang bisa
digunakan untuk melihat parahnya kanker learning disabilities. Ia
membandingkan antara theory in use (baca : praktek) pada time 1 dengan
theory in use pada time 2.

Bila praktek pada waktu pertama secara substansial sama saja dengan
praktek di waktu kedua, maka bisa dikatakanan organisasi terkena kanker
learning disabilities.

Ukuran untuk menyimpulkan, apakah praktek di waktu satu sama atau
tidak dengan di waktu dua, disamping menggunakan pembanding diri
sendiri secara historis, juga menggunakan pembanding orang lain yang
lebih maju. Bila orang yang lebih maju memiliki selisih  sepuluh (baca
: praktek di waktu dua lebih besar sepuluh dibandingkan praktek di
waktu satu), sedangkan kita hanya memiliki selisih dua saja, maka
siap-siaplah menghadapi gelombang pasang perubahan yang mengerikan.

Bila saya meminjam kerangka Donald Schon ini untuk menganalisis
krisis yang sedang melanda banyak organisasi, tampak jelas praktek di
waktu satu tidak banyak berbeda dengan praktek di waktu dua. Manajemen
Suharto, selama tiga puluh dua tahun tidak mengalami perubahan praktek
yang berarti. Selisih antara praktek di tahun satu dengan praktek di
tahun yang ke tiga puluh dua, hampir tidak ada. Fundamennya relatif
sama : dwi fungsi ABRI, Panca Sila dan UUD 45 dengan seluruh monopoli
penafsirannya. Gaya darurat bahkan menjadi warna yang tidak pernah
berubah. Penculikan, penembakan, dan penangkapan terjadi
berulang-berulang dalam waktu dan tempat yang berbeda. Manajemen PT
Orde Baru juga sama saja. Fundamennya hanya dua : mencari cantelan ke
penguasa, dan berjalan seperti kapilah yang tidak menghiraukan tetangga
menggonggong.

Sebagai hasilnya, Anda sudah lihat sendiri tanpa perlu banyak
dikomentari. Sebagai sebuah ide, analisis ala Donald Schon ini memang
tampak mudah dan sederhana. Namun, pelaksanaannya menjadi rumit karena
melibatkan banyak sekali faktor yang lebih dari sekedar manajemen
perubahan yang sederhana. Akan tetapi, sulit mengingkari kenyataan
bahwa kemewahan untuk hidup di comfortable zones telah membuat banyak
orang memihak secara berlebihan pada status quo.

Kesuksesan, kesenangan, kenikmatan adalah sebagian dari sekian
banyak comfortable zones yang bisa menjadi bibit-bibit subur penyakit
learning disabilities. Makanya, ketika orde baru masih berjaya, lagu
yang paling sering dinyanyikan pejabatnya adalah ‘kemesraan ini
janganlah cepat berlalu…’. Di zaman reformasi ini, konon nyanyian
pejabatnya berjudul ‘kucoba untuk bertahan’. Belajar dari ribuan, atau
bahkan jutaan organisasi yang dibuat tidak berdaya oleh kanker
terakhir, ada baiknya untuk meninggalkan comfortable zones saat
kesuksesan masih di tangan.

Joseph Goldstein dan Jack Kornfield dalam The Path of Insight
Meditation pernah menulis : ‘living fully means jumping into the
unknown, dying to all our past and future ideals, and being present
with things just as they are’. Ini berarti, untuk hidup secara penuh di
zaman edan ini, kita mesti berani menjadi manusia ‘mati’. Mati dari
masa lalu. Mati dari masa depan. Melompat ke daerah yang tidak
diketahui. Dan hanya hidup dalam masa sekarang sebagaimana adanya.

Terus terang, tidak mudah membuat diri apa lagi organisasi mati
seperti itu. Lebih-lebih berani masuk ke wilayah yang tidak diketahui.
Hanya saja, karena penyakit learning disablities demikian
mengerikannya, kita tidak punya pilihan lain kecuali menelan pil pahit
dan sulit : menjadi manusia mati.

Tidak perlu bunuh diri tentunya. Tetapi sangat direkomendasikan
untuk membunuh segala kemanjaan  dan kebiasaan yang dihadirkan
comfortable zones. Sebelum dibuat punah sebagaimana dinosaurus, lebih
baik mematikan diri ketika kepunahan itu belum datang. Sayangnya,
sebagaimana dialami banyak manusia, berbagai macam kenikmatan tadi,
membuat manusia takut akan kematian, untuk kemudian hidup tanpa
perubahan. Mirip dengan tentara yang dihukum sebagaimana cerita di awal
tulisan ini. Ia hanya mengenal dua kamus : tidak pernah berubah, dan
dari dulu seperti itu.

Padahal, dengan memasuki rasa sakit dan kematian tadilah penyakit learning disabilities bisa dihindari.

Microsoft justru semakin melaju dengan dituntut secara hukum di
sana-sini. Soichiro Honda berhasil di atas rasa sakit yang
mengakibatkan tangannya putus. Konosuke Matsushita memaksa dirinya
menjadi boros tatkala orang pelit di zaman depresi tahun 30-an. William
Surya Jaya disebut pahlawan agribisnis setelah ditumbangkan dari
singgsananya yang empuk di Astra.

Anda mau ‘mati’ ? Silahkan, dan tidak usah membawa-bawa nama saya
sebagai biang kerok. Mau mati kek, mau hidup kek, emangnya gue fikirin ?


nanti

Monday, March 12th, 2007

Aku ingin bercerita kepada anak-anakku nanti,
tentang periuk nasi yang lebih sering kosong
tentang meja makan yang jarang terisi
dan tentang kursi tamu yang tidak pernah diganti

Aku ingin bercerita kepada anak-anakku nanti,
tentang debu kereta api ekonomi yang mengotori tubuh ayahnya
tentang panasnya mentari kota yang menghitamkan wajah ayahnya
tentang beberapa stel baju kumal yang sering dipakai ayahnya

Aku juga ingin bercerita kepada anak-anakku nanti,
tentang kesabaran ibunya untuk menunggu ayahnya pulang walau larut
tentang senyum manis ibunya ketika dia rapikan baju dan dasi kerja ayahnya
tentang belaian lembut tangan ibunya ketika ayahnya gagal
dan tentang binar mata ibunya yang meyakinkan ayahnya untuk terus melangkah

mimpi

Monday, March 12th, 2007

Kan ku ukur diri ini dengan sang langit
hasta demi sehasta,
jengkal demi sejengkal,
sampaikan salamku untuk sang mentari
akan kususul dia sebentar lagi …

dari mana mereka melangkah

Saturday, March 10th, 2007

    Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku cari jawabannya dalam beberapa hari terakhir. Apakah pengusaha-pengusaha sukses yang ada di dunia atau di Indonesia pernah membayangkan sebelumnya bahwa mereka akan menjadi seperti sekarang ini. Ataukah mereka hanya just do it and do the best saja terhadap bisnis mereka hingga akhirnya bisa menjadi seperti sekarang.
    any idea ’bout these ????

langkah

Friday, March 9th, 2007

Akan engkau bawa kemana lagi Tuhan jiwaku ini, setelah sekian lama jantung ini berdetak dan setelah sekian jauh kaki ini melangkah. Akankah engkau hantarkan aku kepada sebuah gerbang kesetiaan ketika aku engkau uji dengan berbagai macam godaan ? Ataukah akan kau celupkan diri ini ke dalam lautan kebijaksanaan meskipun aku harus menahan nafas untuk beberapa saat ? Ataukah akan engkau serahkan diri ini kepada sang nasib, yang sudah bersiap dengan cemeti dan pisau tajamnya, yang sedikit demi sedikit mencacah tubuhku sambil tertawa terbahak bahak?

Sudah terlalu penat diri ini beristirahat menunggu perjalanan selanjutnya. Aku ingin melanjutkan perjalanan ini lagi. Namun dari mana aku harus memulai ini lagi, setelah aku lupa sampai dimana aku sekarang ? 

ADA APA DENGAN PENDIDIKAN KITA

Friday, March 9th, 2007

“Dalam
tiga puluh tahun terakhir ini, kita tidak punya sekolah dalam arti sejati. Kita
hanya membangun lembaga-lembaga tempat anak-anak itu menghafal agar mereka
menjadi sekrup mekanisme yang taat. Jadi, selama 30 tahun itu itu tidak ada
sekolah sebenarnya. Selain beberapa kekecualian juga, tidak ada lagi guru. Yang
ada: penatar, instruktur, pawang. Ternyata, pendidikan tenggelam dalam power
system. Sekolah bukan tempat menghafal, maka harus ada counter education. Kalau
tidak, Bangsa kita akan terus merosot menjadi bangsa kuli babu lagi atau
panda-panda dalam sirkus”
(Y.B. Mangun Wijaya, dari Th. Sumarthana dkk., Mendidik Manusia
Merdeka , h, 429, Yogyakarta : Pustaka Pelajar,1995)

Sudah saatnya
kita berkaca lagi tentang sistem pendidikan kita. Tanggal 23 November besok
merupakan bagian dari tonggak sejarah pendidikan kita, karena pada hari guru
tersebut, Merupakan bagian dari waktu-waktu yang dipertaruhkan oleh bangsa kita
untuk memperbaiki “masa depannya”. Suatu hal yang sangat ironis memang ketika
kita sadar untuk menengok realitas pendidikan kita. Kekerasan yang terjadi
seringkali mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam menentukan kemana arah
pendidikan kita. Tidak hanya dalam artian fisik, karena kalau dalam artian
fisik saja bisa saja yang mengalami kecacatan adalah faktor jasmani kita. Dan
yang lebih dari itu, kekerasan dalam artian yang lebih halus yang menyerang
pada pola fikir serta orientasi pelaku pendidikan itu sendiri, mempunyai
peranan yang jauh lebih luar biasa dan bersifat jangka panjang.

”Sekolah-sekolah
atau perguruan tinggi sudah dipersiapkan untuk menciptakan manusia-manusia
unggul, yang kelak mengisi pos-pos tertentu di perusahaan dalam rangka mengawal
kepentingan pemilik modal. Pada fase inilah, kekerasan yang terlambangkan mulai
menyeruak, mulai dari kurikulum yang membebani, biaya pendidikan yang tidak
terjangkau, hingga kekerasan yang terjdi
di ruang-ruang kelas
(retas,
h. 7, edisi 7, 2000)

Pendidikan
seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan seperti metode yang pernah
dicontohkan oleh rosulullah SAW. Karena salah seorang ahli menyatakan bahwa  pembelajaran akan lebih mudah diterima bila
dalam kondisi yang menyenangkan. Tidak pada kondisi yang penuh kekerasan. Sama
seperti ketika para Sahabat mendatangi Rosulullah untuk bertanya atau untuk
menerima nasihat dan ajaran-ajaran Islam, dan juda sesekali waktu Rosullah
mendatangi mereka untuk memeberikan pengajaran dan ajaran-ajaran Islam kepada
para Sahabatnya.

Sebetulnya pada
mulanya Islam di Indonesia juga mengajarkan seperti itu. Tapi sekarang sekolah
mulai jadi tempat yang di institusikan dan di formalisasikan sejak revolusi
industri di Ingris. Penemuan-penemuan baru telah mendorong bangsa eropa untuk
mencari sumber bahan mentah dan di jadikan modal. Tapi pada saat ini,
Penjajahan, imperialisme dan kolonialisme model baru merajalela. Penjajahan
yang mereka  lakukan ternyata bukan Cuma
untuk mendapatkan bahan baku,
melainkan juga untuk mendapatkan para pekerja yang siap dibayar rendah. Maka, diciptakanlah konsep pendidikan yang formal, tersekat pada ruang-ruang, ada
guru yang mengajar, dan ada bahan ajaran yang akan diajarkan pada
murid-muridnya.

Bahan-bahan
yang akan diajarkan adalah segala sesuatu yang telah disiapkan oleh penjajah
untuk bisa mencetak lulusan-lulusan yang “siap pakai”untuk kepentingan mereka.

Sekolah
diarahkan pada penciptaan kelompok pegawai rendahan untuk kepentingan mereka,
sehingga sekolah justru menghasilkan orang-orang pesanan yang jadinya bakal
menjadi pegawai yang tidak punya identitas kemanusiaan dan tidak peduli dengan
realitas sosial yang ada.

Jadi sekarang
tinggal bagaimana langkah konkrit kita, pemerintah dan semua elemen masyarakat
untuk melakukan sebuah perbaikan terhadap sebuah sistem pendidikan yang ada di
tanah air kita. Karena pendidikan adalah yang mencerdaskan dan bukan
menghasilkan generasi-generasi yang
apatis dan tidak peduli dengan realitas yang ada.
Danu Ibrahim
Rifai (Adikku)
Bandung, 15 November 2006
Mahasiswa
Ekonomi Universitas Pendidikan Indonesia