…
Wednesday, May 30th, 2007….
Tuhan…
aku bingung
aku hampa
perniagaanku hampir sekarat
….
….
Tuhan…
aku bingung
aku hampa
perniagaanku hampir sekarat
….
Sorry for the lacks of updates in my blog. There were a lot of things that made me not doing this daily activity. Solo was too hot to reorganize all my feelings and made them into some pieces of words anyway. It made me just thinking of the hot weather, the smell of the car pollutant, and the crowded road i hit daily. These recent days was my busy days. Meeting the investor, arranging and re-arrangeing the business plan i’ve made before after met him, and doing a lot of things due to my store seattlement. Finally the investor interested with my offering.
The tragedy began about 2 days ago when i finished all my appointments with all my team members and my investor in Solo. I hit the road to home with my friend riding a motor cycle on about an hour to Maghrib. It was almost rain, the sky was dark, the wind blew softly through my un-scarved neck. I felt very tired and sleepy so we decided to toke my friend as the driver. Actually i’ve got a lil bad feeling coz we hit the road in those conditions. On the way, we didn’t talk each other, we knew that both of us were very tired. And …the tragedy happened, a truck about 2 cars in front of us took break abruptly, it made the car drivers surprise and took break abruptly either. I and my friend found that we were too close with the car in front of us. And we were right, we hit the back of the car. Our motor cycle was damaged, my friend got his neck injured. Fortunately we didn’t fall, I could not imagined what would be happened with us if it happened coz there was a bus behind us. I said Alhamdulillah to God we did not get worse condition in that accident. I still get a bit trauma riding the motor cycle till now.
I have spent the night among a lot of disorder ideas and unstructured concepts. Last night was our first meeting to plan some preparations of our new actions. Ah … how busy me now ….
./Listening to Kerispatih : Akhir Penantian
So sorry for the lack of updates, actually there were a lot of things that i want to blog any way. But I felt there was something in my mind that obstructed my feeling to go out.I don’t know what kind of things that made me difficult to speak something which through my mind. Recently Bandung got it’s drought. The weather grew hotter as the time progressed. The rain that normally spray it’s drop which lost for these recent days dramatically gained my sophisticated mind. I don’t know what should I do now ….
Cuma sedikit mengeluarkan uneg-uneg yang ada di otak. Beberapa hari ini saya banyak melihat berbagai macam tempelan-tempelan publikasi yang ada di kampus. Salah satu yang menarik bagi saya adalah publikasi acara "PRINCESS DAY". Yah, sebuah acara yang yang diselenggarakan SKI STTTelkom yang khusus membahas peran perempuan di era sekarang ini.
Ada beberapa hal yang ganjil menurut saya dalam acara tersebut, salah satu keganjilan yang mengusik hati saya adalah kenapa yang dihadirkan adalah muslimah yang sukses dalam karirnya. Kenapa hal tersebut ganjil, karena menurut saya hal tersebut tidak lebih dari sebuah pembentukan pola pikir bahwa muslimah yang sukses adalah mereka yang "sukses" dalam karirnya, bisa jadi misalnya mereka yang berhasil jadi anggota DPR, mempunyai banyak gelar, sukses dalam bisnis dsb. Kalau menurut saya kenapa tidak juga dihadirkan juga mereka yang berhasil mendidik anak sampai mendapatkan gelar insinyur, mereka yang berhasil mendampingi suami mereka sehingga suami mereka sukses dan peran-peran sejenis yang ada dalam masyarakat. Saya pikir lebih bijak ketika kita menampilkan pembicara dari berbagai macam sudut pandang dan background yang berbeda. Atau kalau tidak bagaimana kalau di forum tersebut dimunculkan pertanyaan-pertanyan seperti bagaimana anak-anak pembicara tersebut, sejauh mana prestasi anak-anak mereka, sejanuh mana prestasi suami mereka, atau pertanyaan-pertanyaan sejenis, yaitu pertanyaan-pertanyaan terkait naluri dasar kewanitaan.
Saya pernah membaca buku "Man from Mars Women from Venus" disana dianjurkan wanita untuk tidak mengambil jalur karir dalam hidupnya ketika dirasa sudah mengganggu naluri-naluri dasar kewanitaan. Disini saya tidak berbicara tentang alasan syar’i, saya berbiara dengan kacamata psikologi ala barat. Di dalam buku tersebut dikatakan bahwa beban wanita karir jauh lebih besar dibandingkan dengan pria karir. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut, ketika pria pulang kerja, dia akan pulang dengan rasa senang, karena dirumah tinggal beristirahat. Secara psikologi dia pulang tanpa beban meskipun kondisi rumah berantakan, piring belum dicuci, pakaian belum dilaundry dsb. Kondisi yang berantakan tersebut tidak akan menganggu pria untuk bisa istirahat(bisa dilihat mayoritas pria mempunyai kamar yang berantakan dan tidak banyak dari mereka yang memperhatikannya). Berbeda dengan wanita karir, ketika dia mendapati rumah dalam kondisi berantakan atau dalam kondisi-kondisi yang disebutkan di atas, secara naluri wanita tidak akan tenang sebelum semua dibereskan, belum lagi kalau mempunyai anak yang rewel, tidak tidak pembantu di rumah, dan hal-hal lain yang memperburuk keadaan. Jadi wanita karir tetap mempunyai beban ketika pria karir sudah tidak mempunyai beban pada waktu tersebut. Hal ini menggambarkan bahwa beban wanita karir jauh lebih besar. Saya di sini berbicara dalam konteks yang lebih general, karena bisa jadi ada kondisi-kondisi khusus yang berbeda atau kasuistik. Namun alangkah baiknya ketika semua kondisi yang ada itu diungkapkan.
Saya juga pernah membaca buku "Chicken Soup for the Couple’s Soul,". Di sana disebutkan Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antarnegara bagian ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin. Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ untuk mengisi mobilnya dan mengecek oli, dia berjalan-jalan memutari poma bensin itu untuk melemaskan kaki. Ketika kembali ke mobil , dia melihat petugas itu sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika dia membayar si petugas. tetapi ketika hendak masuk ke mobil, dia melihat petugas itu melambaikan tangan dan mendengar orang itu berkata, "Asyik sekali mengobrol denganmu." Setelah mereka meninggalkan pompa bensin itu, Wheeler bertanya kepada istrinya apakah ia pernah kenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan. Mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun.
"Astaga, untung kau ketemu aku," Wheeler menyombong. "Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas pompa bensin, bukan istri direktur utama."
"sayangku,"jawab istrinya,"Kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas pompa bensin."
Saya juga pernah ngobrol dengan pak Reza Syarief secara lengsung ketika saya menjadi Laison Officernya kira-kira setahun kemarin. Beliau pernah bercerita ketika menghadiri sebuah pertemuan di Malaysia beliau bertemu dengan seorang kandidat doktor yang dalam desertasinya menganalisis hubungan antara kesuksesan seseorang dengan pola hubungan dengan ibunya. Dan ternyata hasil dari desertasi tersebut adalah sebagian besar pengusaha, atlit, eksekutif sukses dunia mempunyai kedekataan hubungan dengan sang ibu. Bukan berarti memang ketika berkarir seorang perempuan tidak akan dekat dengan sang Ibu, namun bukankah dengan berkarir intensitas seorang ibu dalam mendidik anak akan berkurang. Mungkin ada alasan yang penting kualitas pertemuan bukan banyaknya pertemuan, namun bukankah semakin banyak intensitas dan semakin tinggi kualitas lebih baik ?
Nah bagi saya secara pribadi, sudah selayaknya para perempuan belajar dari istri seperti itu. Bukan karena saya egois, saya hanya ingin para peremupan lebih objektif saja dalam memandang persoalan, bukan hanya egosentris pribadi yang bermain.
Lagi butuh motivasi, eh ternyata ada email dari seorang sahabat, pas banget sama kondisi. Berikut adalah email dari beliau….
Pernahkah Anda mengalami, dimana hasil dari usaha Anda
tidak sesuai dengan harapan Anda. Pasti pernah. Saya
juga pernah. Hal ini mungkin sangat biasa bagi para
pebisnis. Target telah ditetapkan, strategi telah
dipikirkan masak-masak, rencana telah disusun, dan
tindakan pun telah dilakukan. Namun hasilnya? Ternyata
tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kalau hasilnya
sama atau melebihi yang kita harapkan tentu tidak
apa-apa, tapi kalau jauh dibawah yang kita harapkan,
terkadang membuat kita berpikir, yah … gagal deh.
Tapi sesungguhnya apakah gagal itu? Saya jadi teringat
sebuah cerita. Anda mungkin pernah mendengarnya dari
orang lain. Tapi tidak apa-apa, saya ulang saja. Ini
tentang seorang dukun Indian tua yang terkenal sangat
sukses. Seperti Anda tahu, tugas utama dukun Indian
adalah melakukan tarian memanggil hujan. Tidak setiap
kali dukun Indian menari akan terjadi hujan, makanya
tingkat keberhasilan dukun Indian diukur dari berapa
kali hujan terjadi dibanding berapa kali dia menari.
Nah, dukun Indian kita ini tingkat keberhasilannya
mencapai 100%. Setiap kali dia menari, pasti terjadi
hujan. Sementara tingkat keberhasilan dukun Indian
lain, rata2 hanya 50% – 60%.
Berita kehebatan sang dukun tua tadi sampai ke telinga
seorang dukun muda yang sangat berbakat. Dukun muda
ini penasaran karena tingkat keberhasilannya baru 70%.
Jadi rata2 dari 10 kali dia menari, tujuh kali
berhasil terjadi hujan. Penasaran, dukun muda ini pun
memutuskan untuk “apprentice“ kepada dukun tua.
Dipelajarinya setiap langkah, gerak, dan mantra yang
diucapkan si dukun tua. Dukun muda pun melakukan
duplikasi. Bahkan tidak berani ATM – Amati Tiru
Modifikasi, tapi ATP - Amati Tiru Persis. Hingga dukun
muda pun puas karena sudah bisa menduplikasi tarian
pemanggil hujan milik dukun tua. Dukun muda pun
kembali ke kampung nya.
Namun, setelah menerapkan seluruh ilmu dukun tua,
ternyata tingkat keberhasilannya hanya naik sedikit
menjadi 75% masih jauh dari 100%. Dukun muda pun
kembali ke kampung dukun tua untuk protes, karena
pasti masih ada rahasia yang disembunyikan. Dukun muda
pun mendemonstrasikan tarian nya di depan dukun tua.
Dukun tua setelah mengamati mengkonfirm bahwa tarian
dan mantra2 dukun muda sudah betul dan tidak ada yg
salah. Dukun muda pun semakin bingung, apa perbedaan
antara dia dan dukun tua. Dukun muda pun pamit pulang.
Sesaat sebelum dukun muda meninggalkan tenda, dengan
mengisap pipa rokoknya dukun tua berkata: “Oh ya,
sudahkah aku katakan, bahwa setiap aku menari, aku
tidak pernah berhenti hingga hujan datang?“ Ya. Tidak
pernah berhenti! Itulah perbedaan antara sang dukun
yang sukses 100% dengan yang lain.
Keputusan untuk berhenti, atau terus, itulah rupanya
gerbang yang membedakan antara keberhasilan dan
kegagalan. Ketika Anda menghadapi bahwa hasil yang
Anda harapkan tidak sesuai rencana Anda, ada dua
pilihan bagi Anda:
- Berhenti, dan mendeklarasikan kegagalan, atau
- Menganggap hasil tadi sebagai feedback untuk
merevisi strategi Anda, dan Anda mencoba kembali
dengan strategi baru.
Jika Anda memilih gagal, maka pilihan pertama dapat
Anda ambil. Sementara orang-orang yang tidak pernah
gagal, akan memilih pilihan kedua. Mereka menjadikan
hasil yg tidak sesuai harapan tadi sebagai masukan,
menyusun strategi baru, dan mencoba kembali. Kalau
hasilnya masih tidak sesuai, strategi kembali
dirumuskan ulang, dan tindakan baru diambil. Demikian
berulang-ulang. Hingga “turun hujan“. Jadi gagal, dan
juga berhasil, adalah sebuah keputusan. Terserah Anda.
Fauzi Rahmanto