melihat wajah perempuan dari sudut pandang berbeda

    Cuma sedikit mengeluarkan uneg-uneg yang ada di otak. Beberapa hari ini saya banyak melihat berbagai macam tempelan-tempelan publikasi yang ada di kampus. Salah satu yang menarik bagi saya adalah publikasi acara "PRINCESS DAY". Yah, sebuah acara yang yang diselenggarakan SKI STTTelkom yang khusus membahas peran perempuan di era sekarang ini.
    Ada beberapa hal yang ganjil menurut saya dalam acara tersebut, salah satu keganjilan yang mengusik hati saya adalah kenapa yang dihadirkan adalah muslimah yang sukses dalam karirnya. Kenapa hal tersebut ganjil, karena menurut saya hal tersebut tidak lebih dari sebuah pembentukan pola pikir bahwa muslimah yang sukses adalah mereka yang "sukses" dalam karirnya, bisa jadi  misalnya mereka yang berhasil jadi anggota DPR, mempunyai banyak gelar, sukses dalam bisnis dsb. Kalau menurut saya kenapa tidak juga dihadirkan juga mereka yang berhasil mendidik anak sampai mendapatkan gelar insinyur, mereka yang berhasil mendampingi suami mereka sehingga suami mereka sukses dan peran-peran sejenis yang ada dalam masyarakat.  Saya pikir lebih bijak ketika kita menampilkan pembicara dari berbagai macam sudut pandang dan background yang berbeda. Atau kalau tidak bagaimana kalau di forum tersebut dimunculkan pertanyaan-pertanyan seperti bagaimana anak-anak pembicara tersebut, sejauh mana prestasi anak-anak mereka, sejanuh mana prestasi suami mereka, atau pertanyaan-pertanyaan sejenis, yaitu pertanyaan-pertanyaan terkait naluri dasar kewanitaan.
    Saya pernah membaca buku "Man from Mars Women from Venus" disana dianjurkan wanita untuk tidak mengambil jalur karir dalam hidupnya ketika dirasa sudah mengganggu naluri-naluri dasar kewanitaan. Disini saya tidak berbicara tentang alasan syar’i, saya berbiara dengan kacamata psikologi ala barat. Di dalam buku tersebut dikatakan bahwa beban wanita karir jauh lebih besar dibandingkan dengan pria karir. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut, ketika pria pulang kerja, dia akan pulang dengan rasa senang, karena dirumah tinggal beristirahat. Secara psikologi dia pulang tanpa beban meskipun kondisi rumah  berantakan, piring belum dicuci, pakaian belum dilaundry dsb. Kondisi yang berantakan tersebut tidak akan menganggu pria untuk bisa istirahat(bisa dilihat mayoritas pria mempunyai kamar yang berantakan dan tidak banyak dari mereka yang memperhatikannya). Berbeda dengan wanita karir, ketika dia mendapati rumah dalam kondisi berantakan atau dalam kondisi-kondisi yang disebutkan di atas, secara naluri wanita tidak akan tenang sebelum semua dibereskan, belum lagi kalau mempunyai anak yang rewel, tidak tidak pembantu di rumah, dan hal-hal lain yang memperburuk keadaan. Jadi wanita karir tetap mempunyai beban  ketika pria karir sudah tidak mempunyai beban pada waktu tersebut. Hal ini menggambarkan bahwa beban wanita karir jauh lebih besar. Saya di sini berbicara dalam konteks yang lebih general, karena bisa jadi ada kondisi-kondisi khusus yang berbeda atau kasuistik. Namun alangkah baiknya ketika semua kondisi yang ada itu diungkapkan.
    Saya juga pernah membaca buku "Chicken Soup for the Couple’s Soul,". Di sana disebutkan Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antarnegara bagian ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin. Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ untuk mengisi mobilnya dan mengecek oli, dia berjalan-jalan memutari poma bensin itu untuk melemaskan kaki. Ketika kembali ke mobil , dia melihat petugas itu sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika dia membayar si petugas. tetapi ketika hendak masuk ke mobil, dia melihat petugas itu melambaikan tangan dan mendengar orang itu berkata, "Asyik sekali mengobrol denganmu." Setelah mereka meninggalkan pompa bensin itu, Wheeler bertanya kepada istrinya apakah ia pernah kenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan. Mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun.
"Astaga, untung kau ketemu aku," Wheeler menyombong. "Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas pompa bensin, bukan istri direktur utama."
"sayangku,"jawab istrinya,"Kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas pompa bensin."

    Saya juga pernah ngobrol dengan pak Reza Syarief secara lengsung ketika saya menjadi Laison Officernya kira-kira setahun kemarin. Beliau pernah bercerita ketika menghadiri sebuah pertemuan di Malaysia beliau bertemu dengan seorang kandidat doktor yang dalam desertasinya menganalisis hubungan antara kesuksesan seseorang dengan pola hubungan dengan ibunya. Dan ternyata hasil dari desertasi tersebut adalah sebagian besar pengusaha, atlit, eksekutif sukses dunia mempunyai kedekataan hubungan dengan sang ibu. Bukan berarti memang ketika berkarir seorang perempuan tidak akan dekat dengan sang Ibu, namun bukankah dengan berkarir intensitas seorang ibu dalam mendidik anak akan berkurang. Mungkin ada alasan yang penting kualitas pertemuan bukan banyaknya pertemuan, namun bukankah semakin banyak intensitas dan semakin tinggi kualitas lebih baik ?

    Nah bagi saya secara pribadi, sudah selayaknya para perempuan belajar dari istri seperti itu. Bukan karena saya egois, saya hanya ingin para peremupan lebih objektif saja dalam memandang persoalan, bukan hanya egosentris pribadi yang bermain.

Leave a Reply