Archive for September, 2007

Sunday, September 30th, 2007

# Listening : Saosin – 7 Years
# Activity : Waiting for someone with steady
hand to hold on, and a sincere smile to keep me withstand
# Mood :

Menangis…
Menangislah
yang dalam
Ketika
tiupan sang angin sudah tidak mampu lagi membuatmu bergeser satu hasta kedepan

Bertahan…
Bertahanlah
dalam kesendirian
Meskipun
sepi tidak tertarik untuk menemani
Dan
sunyi pun enggan untuk berbagi

Yang aku lakukan hanyalah mencoba untuk terus
berlari. Sudah tidak terhitung lagi aku terjatuh karena memang tidak tertarik
aku menghitungnya.

Yang aku lakukan hanyalah merangkak dan
bertahan. Ketika tak seorangpun mau untuk memapahku. Karena mereka berpikir,
yang aku lakukan hanya sia-sia.

Yang aku lakukan hanyalah mencoba dan mencoba.
Sampai suatu ketika akan datang padaku seseorang sambil berkata bahwa aku lah
sang pemenang dalam pertarungan ini.

Karena tidak
menarik dunia ini kalau kita tidak pernah tertahan dan terjatuh untuk menjadi
juara

SOBAT

Sunday, September 30th, 2007

            6 orang
itu duduk bercengkerama di di emperan sebauh toko. Menikmati secangkir jahe gepuk
dan sebungkus nasi kucing dari sebuah Angkringan. Sesekali muncul tawa yang
renyah diantaranya, memecah sunyinya malam di sebuah desa yang tenang,
Gemolong….

Kenapa kenangan itu
sayup-sayup datang menyapaku malam ini, berharmoni dengan perasaan hati yang
sedang sepi. Aku sepi di tengah kebisingan orang-orang. Aku terasing di dalam hiruk
pikuk kehidupan. Apakah aku terlalu sensitif untuk seorang pria sampai sedemikian
mudahnya kenangan itu menari-nari menguasai pikiran dan jiwaku.

  Aku lihat foto-foto itu. Foto yang
mengingatkan masa-masa itu sobat, ketika kau tepuk pundak ini untuk menyatakan
bahwa engkau bangga pada diriku. Ketika engkau berikan pundakmu agar aku bisa
menumpahkan rasa itu lebih dalam dan dalam lagi. Ketika engkau berikan sapu
tanganmu agar aku bisa mengusap peluh dan air mataku sambil berkata, “Bangkitlah
sobat, aku selalu siap untuk memapahmu kalau engkau terjatuh lagi, namun sekarang
saatnya engkau bangkit untuk kembali berlari !”. Aku rindu saat-saat itu

 Waktu
adalah sebuah dimensi yang bisa mengubur rasa dan kenangan seseorang. Namun
kenapa bagiku waktu ada dimensi yang membuat kenangan-kenangan itu semakin
indah untuk dinikmati. Seperti menghisap lintingan lintingan tembakau yang semakin
lama dihisap semakin sulit diri ini untuk lepas.

 Aku
sudah letih… setiap hari berlari dan berlari namun aku tidak tahu kemana aku
berlari dan untuk apa aku melakukannya. Yang aku lakukan hanya mengikuti
bayangan angin dan lesatan sinar sang surya. Kuikuti mereka hanya karena aku
yakin kesanalah asa itu akan menyambut setiap peluhku. Sebenarnya sudah lama
aku menantikan, kapan lagi ada seorang dari engkau ada disisiku, kita berjalan
beriringan, langkah demi selangkah, jengkal demi sejengkal, sampai suatu ketika
kita bersorak setelah kita tahu bahwa kita telah menjadi pemenang.

Namun
ternyata aku harus berjalan sendirian, sendiri mengejar asaku…

*Sebuncah rasa rindu pada sahabat yang telah
berjalan beriringan selama 10 tahun terakhir, Love you all dudes…*