Archive for December, 2007

Satanic Finance (True Conspiracies)

Sunday, December 23rd, 2007

       Beberapa hari
kemarin saya
mengikuti sebuah perbincangan seru di STV Bandung. Tidak biasanya sebuah acara
televisi menyajikan sebuah harapan bagi saya terhadap perubahan Indonesia,
sebagai sebuah catatan saya udah muak mendengarkan perbicangan normatif para
polikus, atau berita-ebrita menyedihkan tentang Indonesia (mending nonton
sinetron aja he he he). Permasalahan yang dibahas dalam diskusi tersebut adalah
tentang sistem moneter global yang terbukti gagal untuk membangun ekonomi dunia
dan kenapa kita harus kembali pada sistem koin emas atau perak. Sistem ekonomi
global yang menganut paham keynesian telah terbukti semakin membuat orang kaya
semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Dalam diskusi tersebut hadir tiga
tokoh pengusung sistem moneter nasional alternatif yaitu kembali menggunakan
emas sebagai pengganti fungsi uang kertas sekarang (fiat money).

     Salah satu pembicara (Ahmad Riawan
Amin – Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia) mengungkapkan ada 3 pilar setan
(The Three Pilars of Evil) yang saat ini menjadi sumber malapetaka perekonomian
Indonesia yang tentu saja merupakan subset dari sistem moneter global. Pilar
setan pertama adalah uang kertas(fiat
money)
. Sebelum mengenal uang kertas manusia terlebih dahulu mengenal
barter untuk memenuhi kebutuhannya. Ikan ditukar padi, kerbau ditukar sapi,
garam ditukar rotan, dsb. Setelah itu manusia mengenal logam mulia sebagai alat
transaksi, logam mulai dalam hal ini adalah emas dan perak. Pada masa Rasulullah,
emas dan perak yang digunakan untuk melakukan transaksi. Emas dalam bentuk
dinar, dan perak dalam bentuk dirham, dengan rasio 3 dinar sama dengan 7 perak.
Sebenarnya Rasulullah bukan orang pertama yang menggunakan dinar atau dirham.
Mata uang dinar sebenarnya adalah mata uang Byzantium atau Romawi, sedangkan
mata uang dirham adalah mata uang Persia. Hal ini membuktikan bahwa anggapan
yang menyebutkan dinar dan dirham adalah berasal dari Islam adalah salah.
Keduanya bukan dari Islam. Hal ini membuktikan bahwa Islam bukan sebuah agama
yang mengagungkan simbolitas, namun Islam melihat substansi yang sangat luar
biasa yang bisa mendatangkan keadilan dari suatu sistem meskipun sistem
tersebut bukan dari Islam.

Setelah
era penggunaan emas dan perak dikenalkanlah sistem uang kertas. Pada awalnya
ide penggunaan uang kertas sangat menarik. Di dalam buku Satanic Finance dijelaskan dengan detail bagaimana proses
perpindahan uang emas menjadi uang kertas (fiat
money)
dengan sebuah cerita Sukus dan Tukus. Uang kertas diharapkan
mempermudah proses transaksi karena dengan uang emas atau perak proses
mobilisasi uang sangatlah ribet. Oleh karena itu koin emas dan perak
didepositkan dan diganti dengan uang kertas. Nilai uang kertas sama dengan
nilai emas. Sampai pada saat ini tidak terjadi masalah, karena uang yang
beredar masih sama dengan nilai koin emas yang disimpan di bank. Disisi lain
masyarakat yang menginginkan uang kertasnya ditukar dengan koin emas masih bisa
ditukarkan di bank. Karena banyaknya jumlah uang yang beredar sama dengan nilai
koin emas yang ada di bank, bank tidak pernah mengalami masalah dalam proses
penukaran uang kertas dengan koin emas. Setelah manusia terbiasa menggunakan
uang kertas(yang secara nilai harfiahnya hanya bernilai sebagai kertas biasa
saja) penggunaan koin emas semakin jarang. Masyarakat yang menukarkan uang
kertas mereka dengan koin emas semkain sedikit dan pada akhirnya hanya mencapai
nilai 10 persen dari total koin emas yang ada di bank. Nah permasalahan
kemudian baru muncul ketika bank mencetak uang lagi, dengan asumsi bank hanya
perlu mencadangkan koin emas senilai 10 persen dari total nilai uang yang
beredar di masyarakat sebagai jaga-jaga kalau masyarakat ada yang menukarkan
uang dengan koin emasnua. 10 persen itulah yang kemudian disebut sebagai fractional reserve yang disebut dalam
buku tersebut sebagai pilar setan kedua. Jumlah uang yang bisa dihasilkan oleh
bank bisa senilai sembilan kali lipat dari total uang yang sebenarnya beredar
di masyarakat karena di back up oleh koin emas atau perak, karena bank hanya
perlu menadangkan 10 persebnnya saja. Uang-uang tersebut diedarkan di oleh bank
dalam bentuk pinjaman yang tentu saja pinjaman dengan bunga. Bunga atau interest itulah yang nantinya akan menjadi
pilar setan ketiga. Pada awalnya sangat aneh orang meminjam uang kemudian
mendapat charge dalam bentuk bunga.
Namun karena semakin biasanya manusia dengan bunga dan menganggap bahwa bunga
adalah sesuatu yang wajar maka manusia menganggap bunga adalah sesuatu hal yang
biasa. Dari bunga itulah bisa dikatakan bank kembali menciptakan uang yang
beredar di masyrakat. Jumlah uang riil yang beredar di masyarakat sekarang semakin
jauh lebih sedikit daripada jumlah uang yang tersimpan dalam bentuk pembukuan-pembukuan
di bank padahal jumlah uang riil yang beredar itu sendiri jauh lebih besar dari
koin emas yang beredar. Karena banyaknya uang yang beredar di masyakarat jauh
lebih banyak dengan banyaknya output riil yang dihasilkan oleh sistem produksi
maka munculah apa yang disebut inflasi. Harga semakin naik. Disisi lain manusia
yang terlilit dengan utang dan kebutuhan yang semakin tinggi semakin keras
bekerja, mereka semakin menganggap bahwa time is dollar, padahal output
produksi riil itu ada batasnya. Di lain pihak uang yang beredar jauh lebih
cepat jumlahnya karena sistem fractional reserve dan interest tersebut. Maka
muncullah saat ini manusia-manusia yang anti sosial, manusia-manusia yang
selalu punya prinsip cost based activity, bahwa setiap apa yang mereka lakukan
harus menghasilkan uang. Jadilah manusia-manusia yang menjadi budak uang. Hilanglah
sekarang budaya tolong menolong, pinajaman tanpa bunga seperti yang ada pada
jaman Rosulullah, dan sifat-sifat sosial manusia yang lain. Itu baru satu
masalah, coba bayangkan, saat ini pemerintah tidak perlu memback up uang yang
diedarkan dengan koin emas, bisa dibayangkan bagaimana kalau terjadi suatu
kudeta kemudian pemegang kekuasaan mengatakan bahwa uang yang beredar sekarang
sudah tidak berlaku lagi !

        Sebenarnya hal
tersebut di atas masih sedikit dari apa yang diungkapkan pada diskusi tersebut.
Kalau anda tertarik saya merekomendasikan buku yang dibuat oleh pak Ahmad
Riawan Amin tersebut. Di toko buku palasari kemarin saya membeli seharga 17500.
Di sana banyak fakta menerik yang diungkapkan, bagaimana Amerika bisa membangun
sistem ekonomi global seperti sekarang, bagaimana dia bisa membeli sumber daya
alam negara dunia ketiga hanya bermodal selembar cek atau utang yang sebenarnya
adalah cek kosong alias cek yang tidak diback up sama sekali dengan uang baik
kertas atau koin emas, sebuah fakta yang mencengangkan bahwa ternyata dollar
diproduksi oleh lembaga yang disebut The Fed yang ternyata bukan milik negara
namun milik beberapa gelintir individu saja, bagaimana ceritanya pada tahun
1997 hanya dalam beberapa malam jumlah kekayaan manusia Indonesia tinggal
seperempatnya, bagaimana ceritanya bahwa sampai kapanpun kita akan selalu akan
tertinggal dari bangsa lain dalam kemampuan ekonomi kalau kita masih seperti
sekarang, dan banyak fakta lain yang sangat menarik untuk dikaji dan tentu saja
yang lebih penting diimplementasikan. Sebenarnya saya juga baru mengerti kenapa
kita harus kembali kepada sistem ekonomi syariah dari diskusi dan beberapa buku
J. HIDUP EKONOMI SYARIAH, SUDAH SAATNYA KITA KEMBALI KEPADA SISTEM GOLD DINNAR
!

Kawan, mereka tengah sekarat

Sunday, December 23rd, 2007

Kawan,
masih pantaskah hari ini kita berbicara tentang mimpi dan idealisme? Tahukah
engkau kenapa aku bertanya hal ini ? Tidakkah engkau melihat kalau mereka
tengah sekarat di pangkuan kita sekarang. Aku masih ingat dulu ketika kita
selalu berusaha dan yakin bahwa kita mampu merengkuh keduanya, menjaganya untuk
tetap hidup. Keyakinan dan usaha itulah yang dahulu membuat keduanya selalu
segar. Keduanya selalu bergairah, dia bergerak, meletup, menggelegar, bergerak
dengan lincah ke sana dan kemari, seperti untaian atom yang selalu bergerak
dinamis untuk mencapai kestabilan, sama seperti kita yang tiap hari selalu
bergerak untuk menjaga agar mereka tetap hidup.

Namun
kita sudah tidak mampu untuk melihatnya bergerak lincah lagi, dia tengah
sekarat tidakkah engkau lihat kawan!!! Hal ini yang membuat mulutku tidak mampu
berbicara dan bercerita tentang keduanya, mimpi untuk menjadi manusia yang
bermanfaat, mimpi untuk menjadi oase bagi orang lain, mimpi untuk memberikan
seluruh hidup kita kepada pemilik otoritas nilai atau Tuhan. Namun….

Kita
hampir membunuhnya, tidakkah engkau lihat mereka sedang sekarat kawan ?

Kita
hampir membunuhnya dengan alasan-alasan egosentris kita !!!!

Dahulu
kita berbicara tentang kapitalisme yang harus kita lawan. Namun ternyata baru dua
puluhan tahun, kita telah menjadi bahan bakar kapitalisme itu sendiri. Kita
telah menceburkan diri kita pada samudra kapitalisme sehingga mimpi dan idealisme
tidak menemukan oksigen untuk bernafas. Itulah faktor pertama yang menjadikan mereka
sekarat di pangkuan kita. Kita telah menjadi manusia hipokrit.

Dahulu
mungkin lebih dari separuh waktu kita dalam sehari kita habiskan untuk berlari
dan berlari mengejar mimpi dan mempertahankan idealisme di jas-jas almamater
kita. Namun sekarang, lima hari dalam seminggu kita habiskan untuk bekerja, dan
pada akhir pekan kita habiskan untuk bersenang senang karena dalam lima hari
itu kita merasa bukan waktu yang kita miliki. Namun bukankah lima hari itu
hasilnya adalah untuk kita sendiri ? Berarti dalam seminggu tidak ada satupun
yang tersisi bagi kita agar kita sedikit bermanfaat untuk orang lain ? Atau
dengan kata lain kita sudah terlalu egois untuk menghabiskan semua umur kita
hanya untuk kita sendiri tanpa sadar itulah faktor kedua yang sedikir demi
sedikit telah membuat mimpi dan idealisme kita menjadi sekarat di pangkuan
kita.

Dahulu
kita berbicara bahwa nilai dari diri kita diukur dari seberapa banyak orang
yang mendapatkan manfaat dari kehadiran kita. Namun kenapa sekarang nilai diri
kita di ukur dari di mana kita bekerja, berapa gaji kita, bagaimana jenjang
karir kita, dan hal-hal yang hanya bermuara bagi perut kita ? Lidah kita seakan
sudah kelu untuk membicarakan berapa banyak uang kita yang bermanfaat bagi
orang lain ? Berapa banyak waktu dalam sehari yang kita berikan untuk
memberikan manfaat kepada orang lain ? Dan hal-hal lain yang sebenarnya
nantinya akan bermanfaat pada diri kita sendiri. Inilah faktor ketiga yang
semakin mempercepat idealisme dan mimpi kita mati.

Dan
sekarang …. aku hanya bisa berharap sobat, pada sedikit asa yang tersisa agar
keduanya tidak lekas mati di pangkuan kita, kalau engkau tidak mau
mempertahankan dia hidup, biar aku saja yang berkorban, meskipun orang lain
mengatakan bahwa aku sedang melakukan tindakan bodoh.

Belajar dari Novel (#1)

Sunday, December 23rd, 2007

# Listening to :
Souljah – Lelaki “itu” (feat Sundari Sukotjo)
# Current location
: Parijs van Java
# Mood : Chill

 Tidak terasa sudah hampir dua bulan
tidak membeli buku. Padahal biasanya membeli buku adalah sebuah ritual wajib yang
harus dijalani setiap bulan. Ada anggaran khusus yang wajib dialokasikan untuk
membeli buku.

 Kalau dipikir-pikir ada sedikit
pergeseran pada jenis buku yang saya beli. Hal ini terkait juga dengan
pergeseran selera buku apa yang saya baca. Saya keranjingan untuk membaca dan
membeli buku semenjak kelas satu SMA. Sebenarnya ketika SMP sudah lumayan suka
membaca buku sih (saya mempunyai minus mata sejak kelas 3 SMP). Namun rata-rata
yang saya baca pada waktu SMP adalah majalah dan tabloid, jarang saya membaca
buku-buku yang “agak” berbobot. Baru mulai SMA saya menginvestasikan uang untuk
membeli buku-buku yang agak berbobot.

 Rata-rata buku yang saya beli pada
masa-masa awal SMA adalah buku agama dan manajemen diri(terutama buku-buku
tentang teknik belajar seperti Quantum Learning dan Accelerated Learning).
Buku-buku yang saya baca pada saat itu masih berkutat pada apa yang harus saya
lakukan (dengan kata lain lebih bersifat mengatur tidak mengajak berpikir). Karena
saya bukan tipe orang yang suka diatur bagaimana saya berpikir, berperilaku,
dan berpenampilan, saya bosan juga dengan buku-buku seperti itu. Disisi lain
ternyata buku-buku yang katanya mampu melejitkan kemampuan belajar saya tidak
membawa pengaruh baik pada hasil pendidikan saya (kalau yang ini sepertinya
faktor error ada pada diri saya pribadi) karena selama saya duduk di bangku SMA
saya baru dua atau tiga kali masuk sepuluh besar, itupun cuma sepuluh besar
kelas bukan sepuluh besar paralel.

 Setelah bosan dengan buku-buku di
atas, selera buku beralih pada buku-buku filsafat. Saya masih ingat pertama
kali saya dikenalkan dengan filsafat eksistensialisme oleh seorang guru bahasa
inggris saya di sebuah lembaga pendidikan bahasa inggris lumayan terkemuka di
Solo. Awalnya saya tertarik untuk mempelajari filsafat eksistensialisme sebagai
referensi untuk adu argumen ketika diskusi(hampir sebagian besar jam dalam
proses kursus digunakan untuk diskusi dengan bahasa Inggris). Dari sini saya
belajar untuk berbeda pendapat, tidak serta merta memberikan justifikasi kepada
orang bahwa dia benar atau salah. Tema dikusinya pun lumayan provokatif,
seperti setujukah anda dengan Pre Married Sex alias seks sebelum menikah. Bagi
orang timur seperti kita pertanyaan seperti itu pasti dapat dengan mudah kita
jawab dengan satu kata tidak. Namun ketika ketika kita beradu argumen dengan
orang yang tidak satu pemikrian, ternyata banyak orang dibelahan bumi lain yang
menganggap bahwa pre married sex jauh lebih baik untuk menentukan harmonis
tidak nya suatu perkawinan yang akan mereka lakukan alias kalau mereka ingin
menikah mereka harus melakukan pre married sex terlebih dahulu. Mereka tidak
hanya berspekulasi saja dalam memberikan argumen, namun mereka juga memberikan
fakta-fakta yang mencengangkan untuk mendukung pemikiran mereka. Nah, hal-hal seperti
ini adalah cikal bakal letupan-letupan kritis pada diri saya untuk menggali
lebih dalam berbagai macam hal yang dianggap sudah menjadi standar kebenaran
manusia umum, namun masih perlu dikaji lebih dalam, mungkin untuk menjatuhkannya
atau mungkin untuk emmperkuat angapan umum tersebut dengn fakta, bukan dengan
argumen spekulatif.

 Namun ternyata di sisi lain
buku-buku tersebut tidak memberikan pencerahan kepada diri saya. Bagi saya,
ilmu yang bermanfaat itu selalu memberi cahaya bagi orang yang memilikinya,
atau dengan kata lain ilmu itu harus memberikan manfaat kepada pemiliknya. Di
sini saya membedakan istilah manfaat dengan solusi. Bagi saya ilmu yang benar
itu selalu memberikan manfaat meskipun di sisi lain tapi belum tentu memberikan
solusi. Karena ada suatu kondisi ilmu itu hanya memberikan sebuah pertanyaan
yang harus kita cari jawabannya dengan ilmu yang lain. Ilmu seperti inilah yang
akan selalu menghasilkan ide-ide segar dan inovasi baru dalam bidang apapun,
karena ilmu yang memberikan solusi berarti bukan sebuah hal yang baru untuk
kita temukan. Filsafat memang lebih banyak memerbikan pertanyaan-pertanyaan
terbuka kepada mereka yang mempelajarinya, namun jawaban-jawaban yang
ditawarkan tau dihasilkan hanya berasal dari argumen argumen spekulasi tanpa
fakta dan dasar. Ribet ya bacanya
J. Intinya
saya masih percaya pada otoritas Tuhan. Bahwa titah Tuhan tetap merupakan
standar nilai satu-satunya di dunia, bukan yang lain.

 Dari hal itu saya berhenti untuk
membaca buku-buku filsafat, ditambah dari sejarah filsafat eksistensialisme
banyak dari mereka para filosuf yang akhirnya mati dengan kondisi yang
mengenaskan dan banyak diantaranya yang bunuh diri  Setelah itu selera buku saya kembali pada masa
lalu(-tabloid dan majalah). Apalagi ditambah pada saat itu sedang
ramai-ramainya musik Hip Metal, Hard
Core, Punk
dsb. Bisa dikatakan saat itu adalah masa vakum saya dalam
membaca buku. Boleh dibilang saya sepertinya sudah tidak punya waktu untuk
membaca buku. Semakin beratnya pelajaran di sekolah, semakin seringnya jadwal
ngejam di studio (cieehhh), dan
semakin banyaknya pertandingan sepak bola dan futsal di SMA semakin menambah
daftar kegiatan yang mengurangi waktu membaca saya. Hal ini berlangsung sampai
masa-masa pasca EBTANAS.

 Nah, kegiatan mebaca buku kembali
saya lakukan ketika masa-masa kuliah. Pada awalnya agak sulit untuk kembali
membiasakan membaca buku. Tapi karena jadwal ngejam sudah tidak ada, jadwal
kuliah juga tidak padat, kampus juga dekat (saat SMA setiap hari saya harus
naik bus atau memacu motor sepanjang 45 kilometer), tidak punya klub futsal(one thing that makes me fatter and fatter
every day, as you know i was 68 kgs when i was SMA, and now…arghhhhhh)

akhirnya saya terbiasa kembali untuk membaca. Buku apa yang saya baca ? Yeah computer books and lecture pappers. How
boring….
..

bersambung