Belajar dari Novel (#1)
# Listening to :
Souljah – Lelaki “itu” (feat Sundari Sukotjo)
# Current location
: Parijs van Java
# Mood : Chill
Tidak terasa sudah hampir dua bulan
tidak membeli buku. Padahal biasanya membeli buku adalah sebuah ritual wajib yang
harus dijalani setiap bulan. Ada anggaran khusus yang wajib dialokasikan untuk
membeli buku.
Kalau dipikir-pikir ada sedikit
pergeseran pada jenis buku yang saya beli. Hal ini terkait juga dengan
pergeseran selera buku apa yang saya baca. Saya keranjingan untuk membaca dan
membeli buku semenjak kelas satu SMA. Sebenarnya ketika SMP sudah lumayan suka
membaca buku sih (saya mempunyai minus mata sejak kelas 3 SMP). Namun rata-rata
yang saya baca pada waktu SMP adalah majalah dan tabloid, jarang saya membaca
buku-buku yang “agak” berbobot. Baru mulai SMA saya menginvestasikan uang untuk
membeli buku-buku yang agak berbobot.
Rata-rata buku yang saya beli pada
masa-masa awal SMA adalah buku agama dan manajemen diri(terutama buku-buku
tentang teknik belajar seperti Quantum Learning dan Accelerated Learning).
Buku-buku yang saya baca pada saat itu masih berkutat pada apa yang harus saya
lakukan (dengan kata lain lebih bersifat mengatur tidak mengajak berpikir). Karena
saya bukan tipe orang yang suka diatur bagaimana saya berpikir, berperilaku,
dan berpenampilan, saya bosan juga dengan buku-buku seperti itu. Disisi lain
ternyata buku-buku yang katanya mampu melejitkan kemampuan belajar saya tidak
membawa pengaruh baik pada hasil pendidikan saya (kalau yang ini sepertinya
faktor error ada pada diri saya pribadi) karena selama saya duduk di bangku SMA
saya baru dua atau tiga kali masuk sepuluh besar, itupun cuma sepuluh besar
kelas bukan sepuluh besar paralel.
Setelah bosan dengan buku-buku di
atas, selera buku beralih pada buku-buku filsafat. Saya masih ingat pertama
kali saya dikenalkan dengan filsafat eksistensialisme oleh seorang guru bahasa
inggris saya di sebuah lembaga pendidikan bahasa inggris lumayan terkemuka di
Solo. Awalnya saya tertarik untuk mempelajari filsafat eksistensialisme sebagai
referensi untuk adu argumen ketika diskusi(hampir sebagian besar jam dalam
proses kursus digunakan untuk diskusi dengan bahasa Inggris). Dari sini saya
belajar untuk berbeda pendapat, tidak serta merta memberikan justifikasi kepada
orang bahwa dia benar atau salah. Tema dikusinya pun lumayan provokatif,
seperti setujukah anda dengan Pre Married Sex alias seks sebelum menikah. Bagi
orang timur seperti kita pertanyaan seperti itu pasti dapat dengan mudah kita
jawab dengan satu kata tidak. Namun ketika ketika kita beradu argumen dengan
orang yang tidak satu pemikrian, ternyata banyak orang dibelahan bumi lain yang
menganggap bahwa pre married sex jauh lebih baik untuk menentukan harmonis
tidak nya suatu perkawinan yang akan mereka lakukan alias kalau mereka ingin
menikah mereka harus melakukan pre married sex terlebih dahulu. Mereka tidak
hanya berspekulasi saja dalam memberikan argumen, namun mereka juga memberikan
fakta-fakta yang mencengangkan untuk mendukung pemikiran mereka. Nah, hal-hal seperti
ini adalah cikal bakal letupan-letupan kritis pada diri saya untuk menggali
lebih dalam berbagai macam hal yang dianggap sudah menjadi standar kebenaran
manusia umum, namun masih perlu dikaji lebih dalam, mungkin untuk menjatuhkannya
atau mungkin untuk emmperkuat angapan umum tersebut dengn fakta, bukan dengan
argumen spekulatif.
Namun ternyata di sisi lain
buku-buku tersebut tidak memberikan pencerahan kepada diri saya. Bagi saya,
ilmu yang bermanfaat itu selalu memberi cahaya bagi orang yang memilikinya,
atau dengan kata lain ilmu itu harus memberikan manfaat kepada pemiliknya. Di
sini saya membedakan istilah manfaat dengan solusi. Bagi saya ilmu yang benar
itu selalu memberikan manfaat meskipun di sisi lain tapi belum tentu memberikan
solusi. Karena ada suatu kondisi ilmu itu hanya memberikan sebuah pertanyaan
yang harus kita cari jawabannya dengan ilmu yang lain. Ilmu seperti inilah yang
akan selalu menghasilkan ide-ide segar dan inovasi baru dalam bidang apapun,
karena ilmu yang memberikan solusi berarti bukan sebuah hal yang baru untuk
kita temukan. Filsafat memang lebih banyak memerbikan pertanyaan-pertanyaan
terbuka kepada mereka yang mempelajarinya, namun jawaban-jawaban yang
ditawarkan tau dihasilkan hanya berasal dari argumen argumen spekulasi tanpa
fakta dan dasar. Ribet ya bacanya J. Intinya
saya masih percaya pada otoritas Tuhan. Bahwa titah Tuhan tetap merupakan
standar nilai satu-satunya di dunia, bukan yang lain.
Dari hal itu saya berhenti untuk
membaca buku-buku filsafat, ditambah dari sejarah filsafat eksistensialisme
banyak dari mereka para filosuf yang akhirnya mati dengan kondisi yang
mengenaskan dan banyak diantaranya yang bunuh diri Setelah itu selera buku saya kembali pada masa
lalu(-tabloid dan majalah). Apalagi ditambah pada saat itu sedang
ramai-ramainya musik Hip Metal, Hard
Core, Punk dsb. Bisa dikatakan saat itu adalah masa vakum saya dalam
membaca buku. Boleh dibilang saya sepertinya sudah tidak punya waktu untuk
membaca buku. Semakin beratnya pelajaran di sekolah, semakin seringnya jadwal
ngejam di studio (cieehhh), dan
semakin banyaknya pertandingan sepak bola dan futsal di SMA semakin menambah
daftar kegiatan yang mengurangi waktu membaca saya. Hal ini berlangsung sampai
masa-masa pasca EBTANAS.
Nah, kegiatan mebaca buku kembali
saya lakukan ketika masa-masa kuliah. Pada awalnya agak sulit untuk kembali
membiasakan membaca buku. Tapi karena jadwal ngejam sudah tidak ada, jadwal
kuliah juga tidak padat, kampus juga dekat (saat SMA setiap hari saya harus
naik bus atau memacu motor sepanjang 45 kilometer), tidak punya klub futsal(one thing that makes me fatter and fatter
every day, as you know i was 68 kgs when i was SMA, and now…arghhhhhh)
akhirnya saya terbiasa kembali untuk membaca. Buku apa yang saya baca ? Yeah computer books and lecture pappers. How
boring…...
bersambung