Kawan, mereka tengah sekarat
Kawan,
masih pantaskah hari ini kita berbicara tentang mimpi dan idealisme? Tahukah
engkau kenapa aku bertanya hal ini ? Tidakkah engkau melihat kalau mereka
tengah sekarat di pangkuan kita sekarang. Aku masih ingat dulu ketika kita
selalu berusaha dan yakin bahwa kita mampu merengkuh keduanya, menjaganya untuk
tetap hidup. Keyakinan dan usaha itulah yang dahulu membuat keduanya selalu
segar. Keduanya selalu bergairah, dia bergerak, meletup, menggelegar, bergerak
dengan lincah ke sana dan kemari, seperti untaian atom yang selalu bergerak
dinamis untuk mencapai kestabilan, sama seperti kita yang tiap hari selalu
bergerak untuk menjaga agar mereka tetap hidup.
Namun
kita sudah tidak mampu untuk melihatnya bergerak lincah lagi, dia tengah
sekarat tidakkah engkau lihat kawan!!! Hal ini yang membuat mulutku tidak mampu
berbicara dan bercerita tentang keduanya, mimpi untuk menjadi manusia yang
bermanfaat, mimpi untuk menjadi oase bagi orang lain, mimpi untuk memberikan
seluruh hidup kita kepada pemilik otoritas nilai atau Tuhan. Namun….
Kita
hampir membunuhnya, tidakkah engkau lihat mereka sedang sekarat kawan ?
Kita
hampir membunuhnya dengan alasan-alasan egosentris kita !!!!
Dahulu
kita berbicara tentang kapitalisme yang harus kita lawan. Namun ternyata baru dua
puluhan tahun, kita telah menjadi bahan bakar kapitalisme itu sendiri. Kita
telah menceburkan diri kita pada samudra kapitalisme sehingga mimpi dan idealisme
tidak menemukan oksigen untuk bernafas. Itulah faktor pertama yang menjadikan mereka
sekarat di pangkuan kita. Kita telah menjadi manusia hipokrit.
Dahulu
mungkin lebih dari separuh waktu kita dalam sehari kita habiskan untuk berlari
dan berlari mengejar mimpi dan mempertahankan idealisme di jas-jas almamater
kita. Namun sekarang, lima hari dalam seminggu kita habiskan untuk bekerja, dan
pada akhir pekan kita habiskan untuk bersenang senang karena dalam lima hari
itu kita merasa bukan waktu yang kita miliki. Namun bukankah lima hari itu
hasilnya adalah untuk kita sendiri ? Berarti dalam seminggu tidak ada satupun
yang tersisi bagi kita agar kita sedikit bermanfaat untuk orang lain ? Atau
dengan kata lain kita sudah terlalu egois untuk menghabiskan semua umur kita
hanya untuk kita sendiri tanpa sadar itulah faktor kedua yang sedikir demi
sedikit telah membuat mimpi dan idealisme kita menjadi sekarat di pangkuan
kita.
Dahulu
kita berbicara bahwa nilai dari diri kita diukur dari seberapa banyak orang
yang mendapatkan manfaat dari kehadiran kita. Namun kenapa sekarang nilai diri
kita di ukur dari di mana kita bekerja, berapa gaji kita, bagaimana jenjang
karir kita, dan hal-hal yang hanya bermuara bagi perut kita ? Lidah kita seakan
sudah kelu untuk membicarakan berapa banyak uang kita yang bermanfaat bagi
orang lain ? Berapa banyak waktu dalam sehari yang kita berikan untuk
memberikan manfaat kepada orang lain ? Dan hal-hal lain yang sebenarnya
nantinya akan bermanfaat pada diri kita sendiri. Inilah faktor ketiga yang
semakin mempercepat idealisme dan mimpi kita mati.
Dan
sekarang …. aku hanya bisa berharap sobat, pada sedikit asa yang tersisa agar
keduanya tidak lekas mati di pangkuan kita, kalau engkau tidak mau
mempertahankan dia hidup, biar aku saja yang berkorban, meskipun orang lain
mengatakan bahwa aku sedang melakukan tindakan bodoh.