Satanic Finance (True Conspiracies)
Beberapa hari
kemarin saya mengikuti sebuah perbincangan seru di STV Bandung. Tidak biasanya sebuah acara
televisi menyajikan sebuah harapan bagi saya terhadap perubahan Indonesia,
sebagai sebuah catatan saya udah muak mendengarkan perbicangan normatif para
polikus, atau berita-ebrita menyedihkan tentang Indonesia (mending nonton
sinetron aja he he he). Permasalahan yang dibahas dalam diskusi tersebut adalah
tentang sistem moneter global yang terbukti gagal untuk membangun ekonomi dunia
dan kenapa kita harus kembali pada sistem koin emas atau perak. Sistem ekonomi
global yang menganut paham keynesian telah terbukti semakin membuat orang kaya
semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Dalam diskusi tersebut hadir tiga
tokoh pengusung sistem moneter nasional alternatif yaitu kembali menggunakan
emas sebagai pengganti fungsi uang kertas sekarang (fiat money).
Salah satu pembicara (Ahmad Riawan
Amin – Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia) mengungkapkan ada 3 pilar setan
(The Three Pilars of Evil) yang saat ini menjadi sumber malapetaka perekonomian
Indonesia yang tentu saja merupakan subset dari sistem moneter global. Pilar
setan pertama adalah uang kertas(fiat
money). Sebelum mengenal uang kertas manusia terlebih dahulu mengenal
barter untuk memenuhi kebutuhannya. Ikan ditukar padi, kerbau ditukar sapi,
garam ditukar rotan, dsb. Setelah itu manusia mengenal logam mulia sebagai alat
transaksi, logam mulai dalam hal ini adalah emas dan perak. Pada masa Rasulullah,
emas dan perak yang digunakan untuk melakukan transaksi. Emas dalam bentuk
dinar, dan perak dalam bentuk dirham, dengan rasio 3 dinar sama dengan 7 perak.
Sebenarnya Rasulullah bukan orang pertama yang menggunakan dinar atau dirham.
Mata uang dinar sebenarnya adalah mata uang Byzantium atau Romawi, sedangkan
mata uang dirham adalah mata uang Persia. Hal ini membuktikan bahwa anggapan
yang menyebutkan dinar dan dirham adalah berasal dari Islam adalah salah.
Keduanya bukan dari Islam. Hal ini membuktikan bahwa Islam bukan sebuah agama
yang mengagungkan simbolitas, namun Islam melihat substansi yang sangat luar
biasa yang bisa mendatangkan keadilan dari suatu sistem meskipun sistem
tersebut bukan dari Islam.
Setelah
era penggunaan emas dan perak dikenalkanlah sistem uang kertas. Pada awalnya
ide penggunaan uang kertas sangat menarik. Di dalam buku Satanic Finance dijelaskan dengan detail bagaimana proses
perpindahan uang emas menjadi uang kertas (fiat
money) dengan sebuah cerita Sukus dan Tukus. Uang kertas diharapkan
mempermudah proses transaksi karena dengan uang emas atau perak proses
mobilisasi uang sangatlah ribet. Oleh karena itu koin emas dan perak
didepositkan dan diganti dengan uang kertas. Nilai uang kertas sama dengan
nilai emas. Sampai pada saat ini tidak terjadi masalah, karena uang yang
beredar masih sama dengan nilai koin emas yang disimpan di bank. Disisi lain
masyarakat yang menginginkan uang kertasnya ditukar dengan koin emas masih bisa
ditukarkan di bank. Karena banyaknya jumlah uang yang beredar sama dengan nilai
koin emas yang ada di bank, bank tidak pernah mengalami masalah dalam proses
penukaran uang kertas dengan koin emas. Setelah manusia terbiasa menggunakan
uang kertas(yang secara nilai harfiahnya hanya bernilai sebagai kertas biasa
saja) penggunaan koin emas semakin jarang. Masyarakat yang menukarkan uang
kertas mereka dengan koin emas semkain sedikit dan pada akhirnya hanya mencapai
nilai 10 persen dari total koin emas yang ada di bank. Nah permasalahan
kemudian baru muncul ketika bank mencetak uang lagi, dengan asumsi bank hanya
perlu mencadangkan koin emas senilai 10 persen dari total nilai uang yang
beredar di masyarakat sebagai jaga-jaga kalau masyarakat ada yang menukarkan
uang dengan koin emasnua. 10 persen itulah yang kemudian disebut sebagai fractional reserve yang disebut dalam
buku tersebut sebagai pilar setan kedua. Jumlah uang yang bisa dihasilkan oleh
bank bisa senilai sembilan kali lipat dari total uang yang sebenarnya beredar
di masyarakat karena di back up oleh koin emas atau perak, karena bank hanya
perlu menadangkan 10 persebnnya saja. Uang-uang tersebut diedarkan di oleh bank
dalam bentuk pinjaman yang tentu saja pinjaman dengan bunga. Bunga atau interest itulah yang nantinya akan menjadi
pilar setan ketiga. Pada awalnya sangat aneh orang meminjam uang kemudian
mendapat charge dalam bentuk bunga.
Namun karena semakin biasanya manusia dengan bunga dan menganggap bahwa bunga
adalah sesuatu yang wajar maka manusia menganggap bunga adalah sesuatu hal yang
biasa. Dari bunga itulah bisa dikatakan bank kembali menciptakan uang yang
beredar di masyrakat. Jumlah uang riil yang beredar di masyarakat sekarang semakin
jauh lebih sedikit daripada jumlah uang yang tersimpan dalam bentuk pembukuan-pembukuan
di bank padahal jumlah uang riil yang beredar itu sendiri jauh lebih besar dari
koin emas yang beredar. Karena banyaknya uang yang beredar di masyakarat jauh
lebih banyak dengan banyaknya output riil yang dihasilkan oleh sistem produksi
maka munculah apa yang disebut inflasi. Harga semakin naik. Disisi lain manusia
yang terlilit dengan utang dan kebutuhan yang semakin tinggi semakin keras
bekerja, mereka semakin menganggap bahwa time is dollar, padahal output
produksi riil itu ada batasnya. Di lain pihak uang yang beredar jauh lebih
cepat jumlahnya karena sistem fractional reserve dan interest tersebut. Maka
muncullah saat ini manusia-manusia yang anti sosial, manusia-manusia yang
selalu punya prinsip cost based activity, bahwa setiap apa yang mereka lakukan
harus menghasilkan uang. Jadilah manusia-manusia yang menjadi budak uang. Hilanglah
sekarang budaya tolong menolong, pinajaman tanpa bunga seperti yang ada pada
jaman Rosulullah, dan sifat-sifat sosial manusia yang lain. Itu baru satu
masalah, coba bayangkan, saat ini pemerintah tidak perlu memback up uang yang
diedarkan dengan koin emas, bisa dibayangkan bagaimana kalau terjadi suatu
kudeta kemudian pemegang kekuasaan mengatakan bahwa uang yang beredar sekarang
sudah tidak berlaku lagi !
Sebenarnya hal
tersebut di atas masih sedikit dari apa yang diungkapkan pada diskusi tersebut.
Kalau anda tertarik saya merekomendasikan buku yang dibuat oleh pak Ahmad
Riawan Amin tersebut. Di toko buku palasari kemarin saya membeli seharga 17500.
Di sana banyak fakta menerik yang diungkapkan, bagaimana Amerika bisa membangun
sistem ekonomi global seperti sekarang, bagaimana dia bisa membeli sumber daya
alam negara dunia ketiga hanya bermodal selembar cek atau utang yang sebenarnya
adalah cek kosong alias cek yang tidak diback up sama sekali dengan uang baik
kertas atau koin emas, sebuah fakta yang mencengangkan bahwa ternyata dollar
diproduksi oleh lembaga yang disebut The Fed yang ternyata bukan milik negara
namun milik beberapa gelintir individu saja, bagaimana ceritanya pada tahun
1997 hanya dalam beberapa malam jumlah kekayaan manusia Indonesia tinggal
seperempatnya, bagaimana ceritanya bahwa sampai kapanpun kita akan selalu akan
tertinggal dari bangsa lain dalam kemampuan ekonomi kalau kita masih seperti
sekarang, dan banyak fakta lain yang sangat menarik untuk dikaji dan tentu saja
yang lebih penting diimplementasikan. Sebenarnya saya juga baru mengerti kenapa
kita harus kembali kepada sistem ekonomi syariah dari diskusi dan beberapa bukuJ. HIDUP EKONOMI SYARIAH, SUDAH SAATNYA KITA KEMBALI KEPADA SISTEM GOLD DINNAR
!
October 17th, 2008 at 2:19 am
Berikut komentar pembaca buku santanic finance